Dari Wajib Lapor hingga Perjalanan Pulang, Potret Humanis Pembimbingan Bapas Tanjungpandan
Tanjungpandan, INFO_PAS – Pembimbingan Klien Pemasyarakatan tidak selalu berlangsung di balik meja kerja. Sebuah momen sederhana, namun bermakna terlihat di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Tanjungpandan, Kamis (23/7) ketika Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Pertama, Jonatan, mengantarkan Klien Pemasyarakatan berinisial KU pulang ke rumah usai menjalani wajib lapor.
KU tidak memiliki kendaraan pribadi. Untuk memenuhi kewajibannya, ia kerap menumpang rekannya yang hendak berangkat ke pasar dan meminta disinggahkan di Bapas Tanjungpandan. Hari itu, setelah proses wajib lapor dan bimbingan selesai, KU masih berada di kantor karena belum memiliki kendaraan untuk kembali ke rumah.
Mengetahui kondisi tersebut, Jonatan berinisiatif mengantarkan KU pulang. Jarak dari Bapas Tanjungpandan menuju kediaman KU yang kurang lebih 10 kilometer tak menjadi penghalang. Perjalanan tersebut justru menjadi ruang komunikasi yang lebih cair antara PK dan Klien. Keduanya berbincang mengenai keseharian, keluarga, hingga perkembangan kehidupan KU selama menjalani masa pembimbingan.
“Awalnya saya melihat beliau masih menunggu setelah wajib lapor selesai. Setelah berbincang, ternyata belum ada kendaraan untuk pulang. Saya ajak pulang bersama. Sepanjang perjalanan kami justru bisa berbicara lebih santai mengenai keseharian dan keluarganya. Bagi kami, ini juga menjadi momen untuk mengenal kondisi Klien lebih dekat,” tutur Jonatan.
Menurut Jonatan, komunikasi yang terbangun di luar suasana formal menjadi bagian penting dalam pembimbingan. PK tidak hanya memastikan Klien memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga perlu memahami kondisi dan perkembangan kehidupan Klien setelah kembali berada di tengah masyarakat.
“Pembimbingan bukan hanya memastikan Klien hadir wajib lapor. Kami perlu mengetahui bagaimana mereka menjalani kehidupan, bekerja, menjalankan tanggung jawab dalam keluarga, dan menghadapi berbagai persoalan di masyarakat. Dari komunikasi yang baik, kepercayaan akan tumbuh sehingga proses pembimbingan berjalan lebih optimal,” tambahnya.
Bagi KU, wajib lapor di Bapas Tanjungpandan bukan sekadar memenuhi kewajiban selama menjalani masa pembimbingan. Ia senang karena setiap kedatangannya diterima dengan baik serta memperoleh arahan dan dukungan dari PK terhadap berbagai hal yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap datang wajib lapor selalu diterima dengan baik, ditanya keadaan, dan diberikan arahan. Kalau ada kesulitan juga dibantu dan diberikan solusi. Hari ini saya juga dibantu diantar pulang sampai ke rumah. Terima kasih kepada Bapas dan Pak Jonatan yang sudah membimbing saya dengan baik,” ungkap KU.
Momen tersebut menjadi gambaran pembimbingan kemasyarakatan tumbuh melalui interaksi sederhana yang dibangun atas dasar profesionalitas dan kepedulian. Kedekatan antara PK dan Klien menjadi jembatan untuk memahami perkembangan Klien sekaligus memperkuat proses reintegrasi sosial. (IR)
Kontributor: Bapas Tanjungpandan
What's Your Reaction?


