Diserbu Pesanan, Telur Asin Rutan Pelaihari Jadi Produk Andalan

Diserbu Pesanan, Telur Asin Rutan Pelaihari Jadi Produk Andalan

Pelaihari, INFO_PAS — Depan Aula Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari mendadak terasa seperti dapur produksi telur asin yang sedang mengejar daftar pesanan pada Jumat (6/2). Warga Binaan sibuk dengan pekerjaan yang tampak sederhana, tapi menentukan satu hal penting: apakah produk layak dipercaya pembeli atau tidak.

Pembinaan kemandirian pembuatan telur asin di Rutan Pelaihari tidak lagi sekadar kegiatan ruti karena permintaan pasar terus datang. Alur kerja dijaga ketat: telur dipilih yang benar-benar berkualitas, dicuci bersih, lalu diproses dengan adonan pengasinan yang tak boleh asal campur. Setelah itu, telur diperam sesuai waktu yang ditentukan. Tahap yang sering dianggap sepele, padahal paling menentukan rasa, aroma, dan ketahanan produk.

Di antara tumpukan telur yang siap diproses, ritme kerja terlihat tertib. Ada yang fokus membersihkan, ada yang meracik adonan, ada yang memastikan proses pemeraman berjalan sesuai standar. Tidak ada langkah yang boleh dilompati karena telur asin yang laris bukan soal cepat jadi, melainkan soal konsisten—rasanya sama, kualitasnya terjaga.

Pengawas kegiatan, Titin Partini, menyebut tingginya minat pasar menjadi alarm sekaligus motivasi untuk tetap disiplin menjaga mutu. “Telur asin ini kami produksi untuk dipasarkan dan sekarang peminatnya cukup tinggi. Jadi, kami jaga betul prosesnya supaya kualitasnya tetap sama dan pelanggan percaya,” ujarnya.

Murni, salah satu Warga Binaan yang terlibat dari tahap awal, merasakan langsung bedanya bekerja saat pesanan terus berdatangan: harus rapi, harus sabar, dan tidak boleh asal selesai. “Saya ikut dari awal—bersihkan telur, buat adonan, sampai proses pengasinannya. Senang kalau pesanan banyak, berarti orang suka. Rasanya seperti punya karya sendiri yang benar-benar dicari,” tuturnya.

Melalui pembinaan ini, Rutan Pelaihari mendorong Warga Binaan belajar kerja yang punya standar dan arah. Bukan hanya belajar membuat produk, tetapi belajar menjaga kepercayaan pasar—mulai dari kebersihan, ketelitian, hingga konsistensi hasil.  Upaya ini sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan 2026 tentang pemasaran produk hasil karya Warga Binaan melalui koperasi dan UMKM agar karya Warga Binaan punya akses pasar yang lebih luas dan bernilai nyata. (IR)

 

 

Kontributor: Rutan Pelaihari

 


 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0