Ditjenpas Perkenalkan Inovasi Gelang GPS kepada Delegasi Royal Oman Police
Jakarta, INFO_PAS – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) terima kunjungan Delegasi Royal Oman Police, Kamis (18/6). Pertemuan tersebut menjadi forum berbagi pengalaman dan praktik baik di bidang Pemasyarakatan, khususnya terkait penerapan teknologi gelang elektronik (electronic monitoring) untuk mendukung pengawasan Warga Binaan yang menjalani kegiatan di luar Lapas dan Rutan.
Delegasi Royal Oman Police dipimpin oleh Mayor Jenderal Khalifah bin Ali bin Nasser Al Siyabi, Asisten Inspektur Jenderal Polisi dan Bea Cukai Urusan Administrasi dan Keuangan Royal Oman Police. Kunjungan tersebut diterima oleh Kepala Subdirektorat Pencegahan Gangguan Keamanan dan Pemeliharaan Keamanan, Direktorat Pengamanan dan Intelijen, Denial Arif.
Denial menyampaikan apresiasi atas kunjungan Delegasi Royal Oman Police sebagai upaya mempererat hubungan kerja sama dan pertukaran pengetahuan di bidang pemasyarakatan antara Indonesia dan Kesultanan Oman. Ia memaparkan kondisi Pemasyarakatan Indonesia yang saat ini mengelola 627 Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan yang terdiri dari Lapas, Rutan, LPKA, dan Bapas yang tersebar di 33 provinsi. Dengan jumlah penghuni mencapai 274.077 orang dan kapasitas sebanyak 146.860 orang, Pemasyarakatan terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan efektivitas pembinaan dan pengamanan.
Selain mengembangkan pidana alternatif berupa kerja sosial dan program ketahanan pangan, Ditjenpas juga memperkenalkan penggunaan gelang GPS sebagai alat monitoring elektronik bagi Warga Binaan yang menjalani kegiatan di luar Lapas dan Rutan, seperti di Sarana Asimilasi dan Edukasi, kegiatan khusus, maupun pemindahan antarwilayah.

“Seiring berkembangnya program pembinaan yang melibatkan kegiatan di luar tembok Lapas, diperlukan penguatan sistem pengamanan yang lebih modern dan adaptif. Penggunaan gelang GPS menjadi salah satu inovasi yang kami kembangkan untuk mendukung pengawasan secara real time dan meningkatkan efektivitas pengamanan,” terang Denial.
Melalui teknologi tersebut, petugas memantau posisi Warga Binaan secara langsung melalui telepon pintar, komputer, maupun Command Center Ditjenpas. Sistem juga dilengkapi fitur notifikasi otomatis apabila terjadi pelanggaran zona, indikasi pelepasan perangkat, maupun gangguan sinyal.
Dalam sesi diskusi, Delegasi Royal Oman Police memperoleh penjelasan mengenai mekanisme penggunaan gelang GPS, manfaat implementasinya dalam kegiatan pembinaan di luar Lapas dan Rutan, serta pengembangan sistem yang tengah dilakukan Ditjenpas sebagai transformasi digital Pemasyarakatan. Melalui pertemuan ini, Ditjenpas berharap kerja sama dan komunikasi antara Indonesia dan Kesultanan Oman terus berkembang dalam mendukung modernisasi Sistem Pemasyarakatan yang aman, efektif, dan berorientasi pada reintegrasi sosial. (df)
What's Your Reaction?


