Gandeng Mahasiswi ULM, Lapas Perempuan Martapura Siapkan Inovasi Program Kemandirian Meronce
Martapura, INFO_PAS - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Martapura terus kembangkan inovasi dalam program pembinaan kemandirian. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan koordinasi empat orang mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang tergabung dalam Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Selasa (27/1).
Kelompok mahasiswi yang diketuai Alya Nur Ramadhani, bersama anggota Ayla Huwaida, Naila Ramadhana, dan Ayu Wulandari, melakukan koordinasi awal sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini difokuskan pada pengumpulan data dan penyusunan proposal ajang inovasi unggulan yang mengusung program pelatihan meronce bagi Warga Binaan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas rencana pelaksanaan program pelatihan meronce yang diproyeksikan akan diikuti oleh 30 orang Warga Binaan Lapas Perempuan Martapura. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pembinaan keterampilan kerajinan tangan yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Pejabat Lapas Perempuan Martapura, Ida Nursanti, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif para mahasiswi ULM. Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan upaya lapas dalam memperkaya program pembinaan kemandirian.
“Kami sangat menyambut baik semangat adik-adik mahasiswi dari ULM. Program meronce ini sejalan dengan upaya kami dalam mengasah ketelitian dan kreativitas Warga Binaan. Kami siap berkolaborasi dan menyiapkan 30 orang Warga Binaan yang memiliki minat di bidang kerajinan tangan agar program ini berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ketua Kelompok PKM, Alya Nur Ramadhani, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang secara sistematis untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.
“Apabila proposal ini lolos secara nasional, pelatihan akan dilaksanakan selama empat bulan dengan minimal enam kali pertemuan. Kami berharap pelatihan meronce ini dapat memberikan manfaat nyata sebagai bekal keterampilan bagi Warga Binaan,” ungkap Alya.
Melalui sinergi antara dunia pendidikan dan Pemasyarakatan ini, diharapkan program meronce tidak hanya menjadi ajang inovasi mahasiswa, tetapi juga mampu melahirkan produk kerajinan tangan berkualitas karya Warga Binaan yang memiliki nilai jual serta mendukung kemandirian setelah kembali ke masyarakat. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Perempuan Martapura
What's Your Reaction?


