Lapas Atambua Bekali Warga Binaan dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Biochart

Lapas Atambua Bekali Warga Binaan dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Biochart

Atambua, INFO_PAS - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus berkomitmen dalam memberikan bekal keterampilan bagi Warga Binaan. Kali ini, melalui kolaborasi kreatif bersama para peserta magang, Lapas Atambua gelar pelatihan pembuatan pupuk organik berkualitas tinggi yang dikenal sebagai Biochart (Biochar) pada Selasa (12/5) untuk meningkatkan kemandirian Warga Binaan di sektor pertanian berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di lahan Asimilasi ini dipantau dan didukung penuh oleh Kepala Lapas Atambua, Antonio Da Costa. Kehadiran pimpinan secara langsung di lapangan menjadi bukti pembinaan kemandirian merupakan prioritas utama dalam menciptakan Warga Binaan yang produktif dan berdaya guna.

Antonio menyatakan pengolahan pupuk organik Biochart adalah langkah taktis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari sektor Pemasyarakatan. "Melalui pemanfaatan limbah organik menjadi Biochart, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan ketersediaan sarana produksi pangan secara mandiri di Lapas," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Jimy Ndun, menyebut kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pembinaan, melainkan langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian bangsa. “Dengan memanfaatkan limbah menjadi pupuk Biochart, kami memastikan lahan-lahan produktif yang dikelola oleh Warga Binaan memiliki daya dukung optimal untuk menghasilkan pangan berkualitas secara mandiri,” jelasnya.

Dalam sesi pelatihan, Jeni Yolenta, salah satu peserta magang, menjelaskan secara ringkas teknis pembuatan Biochart kepada para Warga Binaan. Menurutnya, keberhasilan Biochar terletak pada ketepatan proses fermentasi dan keseimbangan bahan.

"Proses ini dimulai dengan memadukan limbah hijau yang sudah dicacah, sekam, dan kotoran sapi sebagai bahan utama. Kuncinya adalah pada larutan fermentasi yang merupakan campuran air, molase, dan EM4. Larutan ini harus diaduk rata dan disiramkan ke bahan utama hingga mencapai tingkat kelembapan yang pas saat digenggam terasa basah namun tidak menetes," jelas Jeni di hadapan Warga Binaan.

Setelah pencampuran, bahan harus ditutup rapat menggunakan terpal atau seng untuk menciptakan kondisi kedap udara. "Selama 2-3 pekan, tumpukan harus dibalik secara rutin setiap beberapa hari agar suhunya stabil. Jika warnanya sudah gelap dan tidak berbau tajam, itu tandanya Biochart siap digunakan untuk menyuburkan tanah," tambah Jeni.

Kim Seran, salah satu Warga Binaan, terkejut dengan kemudahan cara pembuatannya. "Ternyata bahannya semua ada di sekitar kita. Tadi kami diajarkan cara mencampur larutan EM4 dan mengatur kelembapannya. Tidak sulit kalau langsung dipraktikkan begini. Kami jadi lebih semangat mengelola kebun di Lapas karena pupuknya bisa bikin sendiri," ungkapnya.

Pelatihan ini merupakan implementasi nyata dari Asta Cita Presiden RI, khususnya pada poin swasembada pangan. Hal ini sejalan dengan 15 Popgram Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di mana salah satu poin utamanya adalah pemberdayaan Warga Binaan untuk mendukung produksi pangan nasional.

Biochart hasil karya Warga Binaan ini akan digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian di area Asimilasi Lapas Atambua. Dengan adanya pelatihan ini, Lapas Atambua berhasil membuktikan keterbatasan jeruji besi bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan mencintai lingkungan. Peserta magang dan Warga Binaan bersinergi menciptakan perubahan positif, satu kepal pupuk demi masa depan yang lebih hijau. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Atambua

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0