Lapas Banjarmasin Optimalkan Budidaya Maggot Dukung Ketahanan Pangan dan Pembinaan Kemandirian Warga Binaan
Banjarmasin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus optimalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian Warga Binaan. Kegiatan yang berlangsung di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 2, Kamis (6/8), ini dukung ketahanan pangan sekaligus bekali Warga Binaan dengan keterampilan pengelolaan limbah organik yang bernilai ekonomi.
Didampingi petugas Seksi Kegiatan Kerja, Warga Binaan beri pakan maggot menggunakan limbah sayuran yang telah dipilah. Pemanfaatan limbah organik tersebut tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan maggot sebagai sumber pakan alternatif berkualitas untuk mendukung berbagai program budidaya di lingkungan Lapas.
Selain pemberian pakan, Warga Binaan juga pantau perkembangan maggot yang memasuki fase prapupa hingga pupa, serta mengecek perkembangan pupa menjadi imago atau lalat Black Soldier Fly (BSF). Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan siklus budidaya.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Banjarmasin, Bagus Paras Etika, mengatakan budidaya maggot merupakan salah satu bentuk pembinaan yang mengintegrasikan keterampilan, kepedulian terhadap lingkungan, dan ketahanan pangan.
"Budidaya maggot tidak hanya mengajarkan teknik budidaya, tetapi juga membentuk pola pikir produktif. Warga Binaan belajar bahwa limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber pakan berkualitas yang mendukung program ketahanan pangan di Lapas. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika mereka kembali ke tengah masyarakat," jelasnya.
Salah seorang Warga Binaan, Ramli (nama samaran), mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti program tersebut. Menurutnya, budidaya maggot memberikan pemahaman bahwa limbah organik dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
"Sebelumnya saya tidak mengetahui proses budidaya maggot. Di sini saya belajar mulai dari pemberian pakan, mengenali fase prapupa, pupa hingga menjadi imago. Keterampilan ini menjadi bekal yang sangat bermanfaat dan semoga dapat saya kembangkan ketika kembali ke masyarakat," ungkap Ramli.
Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan pengembangan budidaya maggot merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembinaan yang produktif dan berkelanjutan.
"Pembinaan kemandirian harus mampu memberikan keterampilan yang aplikatif dan memiliki nilai manfaat. Budidaya maggot menjadi salah satu contoh bagaimana Warga Binaan dibekali kemampuan yang mendukung ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, sekaligus membuka peluang usaha yang dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat," tegas Akhmad Herriansyah.
Program budidaya maggot menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang terintegrasi dengan pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas Banjarmasin. Melalui optimalisasi potensi tersebut, Lapas Banjarmasin dorong pembinaan yang produktif, inovatif, berkelanjutan, serta berorientasi pada peningkatan kompetensi Warga Binaan sebagai bekal reintegrasi sosial. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Banjarmasin
What's Your Reaction?


