Lapas Perempuan Pangkalpinang Gandeng Mitra Perkuat Pemasaran Batik Warga Binaan

Lapas Perempuan Pangkalpinang Gandeng Mitra Perkuat Pemasaran Batik Warga Binaan

Pangkalpinang, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Pangkalpinang matangkan strategi pemasaran produk hasil karya Warga Binaan melalui Rapat Koordinasi implementasi Strategi Marketing Kreasi dan Inovasi Penuh Warna (Smart Krina), Selasa (7/7). Kegiatan tersebut bertujuan bangun kemitraan strategis guna perluas akses pasar, khususnya untuk produk batik hasil karya Warga Binaan.

Rapat yang berlangsung di Aula Lapas dihadiri Kepala Lapas Perempuan Pangkalpinang, Rina Setiari, pejabat struktural, jajaran staf, serta sejumlah mitra, di antaranya: perwakilan Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kota Pangkalpinang, Kelurahan Batin Tikal, Yayasan Sekuntum Melati Kepulauan Bangka Belitung, Galeri Wong Kito, Batik Pinang Sirih, dan Batik Kampung Katak. Pertemuan tersebut menjadi wadah bertukar gagasan untuk perkuat pemasaran produk batik Warga Binaan.

Perwakilan Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kota Pangkalpinang, Joni Badri, tekankan pentingnya fondasi bisnis dalam pemasaran produk. “Setiap produk harus memiliki identitas, target pasar yang jelas, dan dikelola secara konsisten agar mampu berkembang,” ucapnya.

Owner Batik Kampung Katak, Endang Titie, menilai produk batik perlu memiliki ciri khas sebagai identitas daerah agar mudah dikenali masyarakat.

"Kita harus punya ciri khas yang berbeda dengan produk-produk sejenis lainnya. Branding merupakan kunci agar batik memiliki nilai dan identitas yang kuat," ujarnya.

Masukan juga disampaikan Owner Batik Pinang Sirih, Yundarti. Ia mendorong peningkatan kualitas pewarnaan batik, keikutsertaan dalam pameran, serta kerja sama dengan galeri maupun toko batik untuk memperluas pemasaran.

Sementara itu, Owner Galeri Wong Kito, Anggi Fitrilia, dorong Lapas menjaga konsistensi produksi batik agar kepercayaan pasar terus meningkat dan peluang kerja sama semakin terbuka.

Perwakilan Yayasan Sekuntum Melati Kepulauan Bangka Belitung, Dimas, mengusulkan penguatan storytelling pada setiap produk agar memiliki nilai tambah di mata konsumen. Ia juga menyarankan pemasaran melalui coffee shop yang banyak dikunjungi kalangan muda disertai informasi harga yang jelas.

Senada dengan itu, perwakilan Kelurahan Batin Tikal, Hardi, mengatakan kekuatan branding menjadi salah satu faktor penting agar produk lebih mudah dikenal dan diminati masyarakat.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Rina Setiari sampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah berbagi strategi pengembangan produk batik Warga Binaan.

"Kami mengucapkan terima kasih atas seluruh masukan yang telah diberikan, terutama terkait strategi branding, pemasaran, hingga pentingnya membangun ciri khas pada produk batik hasil karya Warga Binaan. Tentu ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi. Memang tantangan yang kami hadapi cukup besar karena para pengrajin merupakan Warga Binaan yang memiliki latar belakang, kemampuan, dan tingkat keterampilan yang berbeda-beda. Namun kami optimistis, melalui sinergi dengan seluruh mitra, produk hasil karya Warga Binaan akan semakin berkembang, memiliki nilai jual, serta mampu dikenal lebih luas oleh masyarakat," ujar Rina.

Melalui Smart Krina, Lapas Perempuan Pangkalpinang berharap kolaborasi dengan berbagai mitra terus berkembang sehingga produk hasil karya Warga Binaan mampu bersaing di pasar sekaligus mendukung keberhasilan pembinaan kemandirian. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Perempuan Palembang

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0