Menumbuhkan Kontrol Diri Untuk Menekan Kecenderungan Kenakalan Remaja

Menumbuhkan Kontrol Diri Untuk Menekan Kecenderungan  Kenakalan Remaja

Kecenderungan perilaku kenakalan remaja setiap tahunnya bertambah setiap tahunnya. Hal tersebut nampak dari fakta yang dilansir Komisi Nasional Perlindungan Anak, yakni pelaku kriminal dari kalangan remaja dan anak-anak mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang ada, terhitung sejak Januari-Oktober 2009 meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Pelakunya rata-rata berusia 13-17 tahun (nusantaraku.com, 2009).

Kasus penyalahgunaan narkoba setiap tahunnya semakin merambah pasar anak muda, baik dari faktor usia maupun pendidikan. Pengguna narkoba belia mengalami peningkatan dibanding  tahun 2010. Berdasarkan faktor umur, pengguna narkoba termuda yang ditangkap Satuan Resor Narkoba Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya tercatat berusia antara 14-19 tahun, angkanya bertambah dari 30 remaja di 2010 menjadi 32 remaja pada tahun 2011 (Surya.co.id, 2011)

Perilaku kenakalan remaja tidak hanya mencakup pelanggaran kriminal dan narkoba saja. Perilaku kenakalan remaja lainnya berupa pelanggaran status, pelanggaran terhadap norma, maupun pelanggaran terhadap hukum. Pelanggaran status seperti lari dari rumah, membolos dari sekolah, minum minuman keras dibawah umur, balapan liar, dan lain sebagainya. Pelanggaran status seperti ini biasanya sulit untuk tercatat secara kuantitas karena tidak termasuk dalam pelanggaran hukum, sedangkan perilaku yang menyimpang terhadap norma, antara lain seks pranikah di kalangan remaja, aborsi oleh remaja wanita, dan lain sebagainya.

Jumlah perilaku-perilaku tersebut mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Menurut data klien yang ditangani Balai Pemasyrakatan (Bapas) Baubau tahun 2018, jumlah klien Anak yang ditangani sebanyak 149 Anak, sedangkan tahun 2019 klien Anak yang ditangani oleh Bapas Baubau sebanyak 219 klien dari pelbagai kasus. Ini merupakan kenaikan yang cukup signifikan, yakni mengalami kenaikan sebanyak 32% dalam satu tahun. Dari data terahir tahun 2019, jumlah klien sebanyak 64% merupakan klien dengan kasus pengeroyokan, kemudian di tempat kedua sebanyak 16 persen merupakan kasus pencurian, di tempat ketiga kasus pembawaan senjata tajam yang mencapai 10%, kasus asusila sebanyak 5%, dan 5% merupakan kasus lainnya.

Fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas menunjukkan semakin banyaknya perilaku menyimpang yang dilakukan remaja. Menurut Santrock (2003) kenakalan remaja merupakan kumpulan dari pelbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.

Becker (dalam Soerjono Soekanto, 1998) menyatakan pada dasarnya setiap manusia memiliki dorongan untuk melanggar aturan pada situasi tertentu. Tetapi, pada kebanyakan orang dorongan-dorongan tersebut biasanya tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan. Hal tersebut karena orang normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk berperilaku menyimpang. Kemampuan menahan diri inilah yang seharusnya dipelajari individu selama masa remaja.

Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan dalam pemenuhan tugas perkembangan. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang sudah dimiliki orang lain seusianya selama masa perkembangan. Havigurst menyatakan salah satu tugas perkembangan remaja adalah bertanggung jawab sebagai warga negara, mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab sosial, serta berkembang dalam pemaknaan nilai-nilai yang ada di masyarakat (Monks, 1999). Keberhasilan dalam pemenuhan tugas perkembangan ini akan menjadikan remaja sadar dan peka terhadap norma sehingga remaja mampu mengendalikan kebutuhan pemuasan dorongan-dorongan dalam dirinya agar tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku. Adapun kegagalan dalam tugas perkembangan ini akan menyebabkan remaja menjadi individu yang kurang peka terhadap aturan dan norma yang berlaku. Individu seperti ini sangat rentan berperilaku melanggar aturan, bahkan melakukan tindak kriminal.

Selain itu, selama ini faktor penyebab perilaku kenakalan selalu dikaji dari sisi eksternal individu. Banyak teori yang menganggap perilaku menyimpang, terutama kejahatan, adalah hasil belajar individu dari lingkungan atau akibat tekanan dari suatu keadaan tertentu. Thomas F. Denson (2012) dalam jurnalnya yang berjudul “Self Control and Aggresion” menyatakan kebanyakan teori dan jurnal yang berkaitan dengan agresi maupun perilaku delinkuen mengabaikan faktor internal dari dalam diri. Ketika dorongan untuk berbuat menyimpang maupun agresi sedang mencapai puncaknya, kontrol diri dapat membantu individu menurunkan agresi dengan mempertimbangkan aspek aturan dan norma sosial yang berlaku.

Travis Hirschi dan Gottfredson (1990) mengembangkan “The General Theory of Crime” atau yang lebih dikenal dengan “Low Self Control Theory.” Teori ini menjelaskan perilaku kriminal dapat dilihat melalui single-dimention, yakni kontrol diri (self control). Individu dengan kontrol diri yang rendah memiliki kecenderungan untuk menjadi impulsif, senang berperilaku berisiko, dan berpikiran sempit.

Rasionalisasi dari penjabaran diatas adalah individu dengan kontrol diri yang rendah, senang melakukan risiko, dan melanggar aturan tanpa memikirkan efek jangka panjangnya. Adapun individu dengan kontrol diri yang tinggi akan menyadari akibat dan efek jangka panjang dari perbuatan menyimpang.

Untuk itu, kontrol diri seseorang sangatlah penting agar semua perbuatan yang dilakukan bisa selaras dengana aturan yang berlaku. Namun, yang jadi permasalahan adalah bagaimana menumbuhkan kontrol diri yang ada pada diri remaja agar mereka tidak terjerumus? Agar kecenderungan anak untuk nakal bisa ditekan melalui pengendalian diri, berikut penulis beberapa kiat untuk jangka pendek maupun jangka panjang yang bisa dilatihkan kepada remaja untuk membantu mengembangkan kontrol diri untuk menekan kecenderungan kenakalan remaja dikutip dari berbagai sumber.

Untuk saran jangka pendek penulis menjabarkannya sebagai berikut:

  1. Kenali pikiran impulsif yang muncul

Untuk bisa membangun pengendalian diri dengan mengetahui cara menolak pemicu pikiran impulsif yang muncul pada momen tertentu. Buatlah daftar perilaku yang ingin kendalikan dan situasi yang memicu perilaku tersebut. Mengenali momen yang memicu tindakan impulsif akan mampu menciptakan jeda antara munculnya keinginan dan tindakan.

 

  1. Berikan waktu untuk memproses pikiran impulsif

Dengan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir sehingga bisa mengevaluasi tindakan yang akan lakukan dari sudut pandang yang lebih rasional. Cara ini membantu untuk belajar menunda sehingga terhindar dari perilaku impulsif.

 

  1. Temukan pengalih yang bermanfaat

Jika kesulitan menolak keinginan impulsif jika hanya duduk diam dan menurutinya. Alih-alih, sadari apabila muncul keinginan dan alihkan dengan memperhatikan hal yang lain. Cara ini akan mengalihkan pikiran impulsif dan memberikan kesempatan untuk memutuskan apakah mau memenuhi keinginan tersebut.

Sedangkan untuk kiat jangka panjang adalah sebagai berikut:

  1. Buatlah daftar kebiasaan atau perilaku yang ingin kendalikan

Jika orang-orang yang dikenal sudah memberikan masukan tentang kebiasaan yang dilakukan, pertimbangkan baik-baik hal ini. Ingatlah, perubahan yang sesungguhnya harus berasal dari dalam diri sendiri. Jadi, dengarkan intuisi diri, hormati perasaan sendiri, dan hargai umpan balik yang orang lain berikan, juga harus berkomitmen untuk berubah dan membangun pengendalian diri agar benar-benar bisa mengubah perilaku.

 

  1. Tentukan perilaku yang ingin akan diubah

Banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan kedisiplinan dan pengendalian diri. Jadi, bersabarlah dan lakukan satu demi satu. Bacalah daftar perilaku yang sudah dibuat lalu tentukan perilaku yang ingin diperbaiki. Mengubah kebiasaan dan membangun pengendalian membutuhkan waktu dan usaha. Hargai energi dengan menentukan tujuan yang realistis dan bisa tercapai.

 

  1. Lakukan studi tentang perilaku

Carilah informasi sebanyak mungkin tentang cara membangun pengendalian diri yang orang lain lakukan dalam situasi yang sama. Bertanyalah kepada teman-teman atau orang terdekat yang pernah melakukan perubahan seperti yang diinginkan

 

  1. Kenali sifat dengan jujur

Bisa mengenali perilaku yang perlu diubah dengan menyadari pemicu emosi yang menimbulkan perilaku impulsif dan membuat kesulitan mengendalikan diri. Merasa lebih mampu mengendalikan keinginan dan memutuskan cara membangun pengendalian diri dengan menumbuhkan kesadaran atas perilaku impulsif. Berusahalah menemukan cara yang paling baik. Membangun pengendalian diri harus dimulai dengan menyadari apa penyebab yang terkadang merasakan keinginan impulsive

 

  1. Tentukan tujuan yang realistis

Salah satu alasan seseorang gagal membangun pengendalian diri adalah rasa kecewa kepada diri sendiri karena belum mengalami perubahan dalam waktu singkat atau tidak mampu menghentikan perilaku impulsif dalam sekejap. Dengan meraih keberhasilan dengan menentukan tujuan yang realistis dan mengurangi kebiasaan sedikit demi sedikit, alih-alih menghentikannya sama sekali.

 

  1. Catatlah progres yang sudah Anda capai

Ingatlah bahwa apa yang diperlukan adalah progres, bukan kesempurnaan. Siapkan kalender khusus untuk mencatat usaha yang dilakukan. Apabila merasa kesulitan mengendalikan diri, catatlah di kalender dan tulislah dalam jurnal, apa yang terjadi sebelumnya sehingga memicu perilaku impulsif. Semakin menyadari diri sendiri dan pola perilaku diri, semakin mudah untuk mengenali munculnya pemicu

 

  1. Berikan motivasi kepada diri sendiri

Temukan alasan yang masuk akal mengapa ingin mengendalikan perilaku dan ingatlah selalu alasan ini. Temukan juga apa yang membuat termotivasi lalu catatlah dalam jurnal. Cara lainnya, tulislah beberapa alasan di kertas kecil lalu simpan di dalam dompet atau gunakan aplikasi untuk mencatat di ponsel.

 

  1. Salurkan energi dengan berperilaku positif.

Bentuklah perilaku baru untuk menggantikan perilaku yang ingin kendalikan. Lakukan proses ini untuk mencari cara yang paling tepat. Jangan berputus asa jika cara yang digunakan belum berhasil, carilah cara lain. Dengan memperhatikan diri sendiri, hal ini menunjukkan kesungguhan untuk benar-benar ingin berubah dan lebih mampu mengendalikan diri

 

  1. Kembangkan hobi baru

Bisa belajar mengendalikan diri dengan mengalihkan perhatian pada hobi baru yang membuat lupa waktu, misalnya menjadi penggemar mobil atau motor, berolahraga, melukis atau aktivitas lain yang menyenangkan. Salah satu cara mengubah perilaku adalah dengan membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat dan tidak memicu keinginan impulsif.

 

  1. Berikan semangat kepada diri sendiri

Bersikaplah proaktif menyemangati diri sendiri untuk mengubah hidup seperti yang diinginkan. Sikap positif berpengaruh besar pada kemampuan mengendalikan diri. Jangan menyalahkan diri sendiri jika tujuan terasa sulit dicapai. Arahkan perhatian pada usaha yang mampu dilakukan dan lupakan pikiran tentang kegagalan sambil terus berusaha

 

  1. Mintalah bantuan dari orang-orang yang suportif

Beri tahu teman-teman dan orang-orang terdekat bahwa Anda sedang mengubah perilaku. Tanyakan apakah Anda boleh menelepon atau mengirimkan pesan jika Anda membutuhkan dukungan. Biarkan orang lain membantu agar Anda merasa lebih percaya diri dan mampu melakukan perubahan. Walaupun aspek penting dalam membangun pengendalian diri adalah memberdayakan diri sendiri, Anda akan lebih siap melaksanakan keputusan untuk berubah dengan membiarkan orang lain menasihati, motivasi, dan mendengarkan Anda

 

  1. Ketahui kapan Anda harus meminta bantuan

Membangun pengendalian diri adalah keinginan yang sangat baik karena akan membawa perubahan dalam kehidupan Anda dan membuat Anda merasa lebih bertanggung jawab atas diri sendiri dan keputusan Anda. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat seseorang membutuhkan bantuan untuk mendukung tekadnya.

Semua metode tersebut bisa digunakan oleh setiap orang, bahkan bisa menjadi sebuah rujukan untuk membuat sebuah pelatihan, terutama untuk insan Pemasyarakatan, sebagai bahan untuk membuat Warga binaan Pemasyarakatan bisa merubah sikapnya sehingga tidak kembali melakukan hal yang membuatnya kembali ke balik jeruji. Tentunya itu hanya sebagai upaya untuk hasilnya tergantung dari diri sendiri dan juga pembimbing yang kompeten. Mudah-mudahan tulisan ini menginspirasi para trainer atau calon trainer membuat gebrakan untuk menyadarkan semangat muda dapa diri remaja agar tidak salah langkah di usia belia.

 

 

Penulis: Asep Purnomo Sidi (Bapas Baubau)

What's Your Reaction?

like
3
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0