Peran Emosi dalam Pembimbingan Kemasyarakatan

Peran Emosi dalam Pembimbingan Kemasyarakatan

Bimbingan kemasyarakatan merupakan praktik penting dalam Sistem Pemasyarakatan yang berperan untuk membimbing dan membantu Klien supaya mampu kembali dalam aktivitas sosial secara lebih adaptif dan bertanggung jawab. Dalam praktiknya, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) tidak hanya menangani masalah administratif dan hukum, tetapi juga situasi psikologis kompleks Klien mereka. Klien sering mengalami tekanan emosional sebagai akibat dari proses hukum, seperti stigma negatif sosial, dan keraguan terhadap masa depan.

Manusia terus-menerus terpapar rangsangan yang berpotensi emosional dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perasaan internal hingga kejadian eksternal. Emosi sering digambarkan sebagai kekuatan yang tak terbendung yang memiliki dampak signifikan pada perilaku. Alih-alih menjadi peristiwa abstrak dan tak terkendali, emosi adalah reaksi psikologis yang dapat dipahami, dikendalikan, bahkan diubah dengan pemahaman dasar tentang cara kerja pikiran manusia. Id, ego, dan superego adalah tiga kekuatan internal yang sering berbenturan. Memahami emosi sangat penting dalam proses bimbingan kemsyarakatan karena kondisi emosional Klien memiliki dampak besar pada seberapa baik perilaku mereka diubah.

Emosi disebabkan oleh gabungan unsur biologis (seperti hormon dan otak), unsur lingkungan (seperti pengalaman masa lalu), dan pemikiran kita sendiri. Emosi menjadi dua kelompok utama: emosi positif, seperti cinta dan kebahagiaan yang menginspirasi kita, dan emosi negatif, seperti rasa takut dan marah, yang jika tidak terkendali dapat menjadi penghalang (Lieberman, 2013).

 

Emosi Klien dalam Proses Pembimbingan

Klien Pemasyarakatan biasanya merasakan berbagai emosi negatif, termasuk kemarahan atas keadaan mereka, takut akan hukuman, rasa malu di depan umum, dan ketidakpastian tentang masa depan mereka. Perasaan-perasaan ini mempengaruhi sikap Klien terhadap proses bimbingan, termasuk tingkat transparansi dan kepatuhan mereka terhadap program pembinaan dan lapora rutin yang diwajibkan.

Menurut Lieberman, emosi sering kali "merebut" kendali dari penalaran kita, seperti marah dapat menyebabkan seseorang bertindak impulsif dan kemudian menyesali pilihan mereka (Lieberman, 2013). Oleh karena itu mungkin beberapa Klien menjadi defensif, tidak kooperatif, bahkan melakukan kejahatan baru sebagai akibat dari hal ini.

PK memiliki peran strategis sebagai pendamping yang membantu Klien mengenali dan mengelola emosinya. Pendekatan yang empatik dan humanis memungkinkan PK membangun hubungan kepercayaan dengan Klien. Dengan berfokus pada empati, penerimaan sepenuhnya, serta pemahaman yang diarahkan pada kebutuhan dan pemahaman yang mendalam terhadap sudut pandang Klien. Dalam dua hal tersebut, PK dapat menciptakan lingkungan yang mendukung Klien dalam menyelesaikan masalah mereka dan memaksimalkan potensi mereka (Kurniasari, 2021).  Dalam kerangka psikologi emosi Lieberman, hubungan yang aman secara emosional dapat menurunkan dominasi emosi negatif dan membuka ruang bagi perubahan perilaku.

Selain itu, melalui komunikasi yang efektif, stigma sosial yang melekat pada mantan Narapidana kerap menjadi hambatan psikologis yang tidak disadari. Klien merasa rendah diri dan cenderung tertutup karena takut dihakimi, termasuk oleh PK. Corrigan, dkk. (2021) menjelaskan internalisasi stigma dapat menyebabkan gangguan dalam komunikasi interpersonal karena individu membatasi diri dan tidak mampu menunjukkan identitas aslinya. PK dapat membantu Klien dengan mengalihkan emosi negatif menjadi respons yang lebih adaptif. Komunikasi yang efektif dilihat ketika pesan kita tersampaikan dengan baik.

Di sisi lain, kegagalan komunikasi terjadi ketika isi pesan kita disalahartikan oleh orang lain dan ketika hal itu berdampak negatif pada hubungan antara komunikator. Dalam praktiknya, PK menggunakan cara komunikasi yang positif, empatik, dan tidak menghakimi. Pendekatan ini membuat Klien merasa diperlakukan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.  

Hecht dan Miller (2015) menyatakan respons emosional positif yang muncul dari gaya komunikasi seperti ini memperkuat hubungan sosial dan rasa saling percaya, terutama dalam situasi yang penuh tekanan. Misalnya, rasa takut dapat diarahkan menjadi kehati-hatian, dan kemarahan diolah menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, pembimbingan tidak hanya berfokus pada pengawasan, tetapi juga pada penguatan kapasitas emosional Klien.

 

 

Penulis: Finda Febriana Rahma (Peserta Magang Hub Angkatan II di Bapas Kelas I Tangerang)

What's Your Reaction?

like
9
dislike
0
love
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0