Produksi 240 Butir Telur Asin, Capaian Kemandirian Lapas Batulicin Kian Beragam
Batulicin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin hasilkan 240 butir telur asin dari pengolahan telur bebek yang berasal dari peternakan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Rabu (14/10). Produk ini menambah ragam kegiatan usaha pangan yang dikembangkan untuk membekali Warga Binaan dengan keterampilan produktif dan bernilai jual.
Pengolahan telur asin berlangsung di SAE Lapas Batulicin dengan melibatkan tiga orang Warga Binaan sejak tahap persiapan hingga produk siap dipasarkan. Proses produksi diawali dengan pemilihan telur berdasarkan kondisi cangkang dan kesegarannya, dilanjutkan dengan pembersihan serta persiapan permukaan cangkang. Telur kemudian direndam dalam media pengasinan selama 15 hari hingga siap dipasarkan.
Hasil produksi selanjutnya dipasarkan melalui Kantin Pujasera dan Inkopasindo di lingkungan Lapas Batulicin. Produk juga ditawarkan kepada petugas serta keluarga Warga Binaan saat layanan kunjungan, sehingga tersedia jalur pemasaran di lingkungan Lapas.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, menjelaskan bahwa pengolahan telur asin memperluas jenis keterampilan yang dikembangkan dalam program kemandirian Warga Binaan. Pemanfaatan hasil peternakan jadi produk olahan juga beri pengalaman dalam mengelola proses produksi hingga pemasaran.
“Pengolahan telur asin memberikan pengalaman bagi Warga Binaan untuk memahami tahapan produksi pangan, mulai dari persiapan bahan hingga pemasaran. Kami berharap keterampilan ini terus berkembang sehingga dapat menjadi bekal yang bermanfaat dalam mendukung kemandirian mereka,” ujar Harry.
Salah seorang Warga Binaan, P, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama terlibat dalam proses pembuatan telur asin. Kegiatan tersebut memberinya kesempatan mempelajari keterampilan baru yang dapat dikembangkan untuk masa depan.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman dari proses pembuatan telur asin, mulai dari menyiapkan telur hingga merawatnya selama perendaman. Pengalaman ini memotivasi saya untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan yang bermanfaat,” ungkap P.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan usaha pangan yang melibatkan Warga Binaan. Menurutnya, pengolahan hasil peternakan menjadi produk bernilai jual merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pembinaan kemandirian sekaligus mendukung ketahanan pangan.
“Kami terus mendorong kegiatan produktif yang memberikan keterampilan nyata bagi Warga Binaan. Pengolahan hasil peternakan menjadi produk pangan bernilai jual diharapkan dapat mengembangkan kemampuan usaha sekaligus mendukung pemanfaatan potensi yang dimiliki Lapas Batulicin,” ujar Thoha. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Batulicin
What's Your Reaction?


