Produksi Tempe Terus Bergulir, Lapas Batulicin Mantapkan Pembinaan Kemandirian
Batulicin, INFO PAS – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin terus berkembang melalui produksi tempe yang dilaksanakan secara rutin oleh Warga Binaan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pembinaan produktif yang tidak hanya membekali keterampilan, tetapi juga mendukung kebutuhan pangan di lingkungan Lapas.
Setiap hari, Warga Binaan mengolah empat kilogram kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe. Dari proses tersebut, dihasilkan rata-rata 30 bungkus tempe setiap harinya yang selanjutnya didistribusikan setiap pagi ke Dapur Sehat Lapas Batulicin sebagai bahan makanan bagi Warga Binaan.
Seluruh tahapan produksi dikerjakan oleh dua tamping yang telah mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari petugas. Mulai dari penimbangan kedelai, perendaman, perebusan, fermentasi, hingga proses pembungkusan dilakukan secara telaten dengan mengedepankan kebersihan, ketelitian, dan kualitas hasil produksi.
Kepala Subseksi Pembinaan, Harry Indrawan, mengatakan produksi tempe merupakan salah satu program pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi Warga Binaan maupun kebutuhan internal Lapas. Pembinaan akan terus diperkuat melalui pendampingan dan penyediaan sarana agar Warga Binaan menghasilkan produk berkualitas secara berkelanjutan.
"Kami terus memfasilitasi Warga Binaan melalui pembinaan terarah agar menguasai keterampilan produktif. Produksi tempe ini menjadi bukti pembinaan kemandirian berjalan berkesinambungan sekaligus menghasilkan manfaat nyata bagi Warga Binaan dan kebutuhan Lapas," ujar Harry, Rabu (1/7).
Warga Binaan berinisial N menjalani setiap tahapan produksi dengan penuh semangat dan kesabaran. Pengalaman mengolah tempe dari awal hingga siap didistribusikan menjadi bekal berharga yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke masyarakat.
"Setiap proses kami jalani dengan sungguh-sungguh, mulai dari menimbang kedelai hingga membungkus tempe. Saya merasa bangga karena hasil kerja kami setiap hari dimanfaatkan, sekaligus menjadi keterampilan yang bisa saya bawa untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri setelah bebas nanti," ungkap N.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menegaskan pembinaan kemandirian harus menghasilkan keterampilan aplikatif dan memberikan manfaat nyata. Produksi tempe merupakan salah satu bentuk keberhasilan pembinaan yang akan terus dikembangkan sebagai penguatan kemandirian Warga Binaan.
"Produksi tempe yang berlangsung secara konsisten menunjukkan pembinaan melahirkan keterampilan produktif dan bernilai manfaat. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan program-program kemandirian agar makin banyak Warga Binaan memperoleh bekal keterampilan yang dapat menjadi modal hidup sekaligus mendukung ketahanan pangan di Lapas Batulicin," tegas Thoha.
Aktivitas produksi tempe menjadi pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan di Lapas Batulicin. Selain melatih keterampilan teknis, kegiatan tersebut juga membentuk etos kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, dan memberikan pengalaman yang menjadi bekal berharga bagi Warga Binaan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Melalui produksi tempe yang terus bergulir setiap hari, Lapas Batulicin mempertegas komitmennya dalam menghadirkan pembinaan produktif, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Program ini menjadi bukti proses Pemasyarakatan tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang siap diterapkan sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih mandiri. (IR)
Kontributor: Lapas Batulicin
What's Your Reaction?


