Program Hortikultura Lapas Tolitoli Jadi Sarana Pembelajaran Mahasiswa STIP
Tolitoli, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tolitoli kembali buka ruang kolaborasi dengan dunia pendidikan melalui pelaksanaan praktikum agribisnis hortikultura yang diikuti mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Tolitoli. Selasa (16/6). Kegiatan yang berlangsung di Kebun Hortikultura Lapas tersebut jadi sarana pembelajaran lapangan sekaligus memperkenalkan program pembinaan kemandirian Warga Binaan.
Praktikum ini difasilitasi oleh Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Bimnadik dan Giatja) melalui Subseksi Kegiatan Kerja. Mahasiswa berkesempatan amati langsung proses budidaya hortikultura yang menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian Warga Binaan.
Kegiatan tersebut didampingi oleh dosen pembimbing Nurmala, dan Fatmah, serta jajaran petugas Lapas yang terdiri atas Kepala Seksi Bimnadik dan Giatja, I Putu Arta Wibawa, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja. Frengki, dan staf kegiatan kerja.
Mahasiswa lakukan pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner kepada Warga Binaan yang terlibat dalam program hortikultura. Beberapa aspek yang menjadi fokus kajian antara lain jenis benih yang digunakan, kemudahan memperoleh benih, ketersediaan dan keterjangkauan pupuk, serta penggunaan pestisida dalam proses budidaya tanaman.
Untuk memaksimalkan kegiatan, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok. Selain melakukan observasi dan wawancara, mereka juga memperoleh pembekalan teknis mengenai tahapan budidaya tanaman, mulai dari persiapan lahan, penyemaian benih, hingga pemeliharaan tanaman.
I Putu Arta Wibawa mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi positif antara Pemasyarakatan dan dunia pendidikan dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan berbasis praktik lapangan.
“Kami sangat mendukung kegiatan praktikum seperti ini karena memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang nyata, sementara program pembinaan yang kami jalankan dapat menjadi referensi akademik dan bahan penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembinaan kemandirian dilaksanakan di lingkungan Pemasyarakatan,” ujar I Putu.
Menurutnya, program hortikultura yang dijalankan di Lapas Tolitoli merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Kami berharap sinergi dengan dunia pendidikan dapat terus terjalin sehingga program pembinaan yang ada di Lapas dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi Warga Binaan maupun bagi kalangan akademisi,” tambahnya.
Sementara itu, Frengki menjelaskan bahwa kegiatan praktikum tersebut menjadi media pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa untuk memahami praktik agribisnis secara langsung di lapangan.
“Mahasiswa dapat melihat sendiri bagaimana proses budidaya hortikultura dijalankan di lingkungan Lapas. Kami memberikan penjelasan mulai dari pengolahan lahan, penyemaian benih, pemeliharaan tanaman, hingga proses panen. Pengalaman lapangan seperti ini tentu akan menambah wawasan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang pertanian,” jelas Frengki.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pembinaan juga menjadi bentuk pengenalan terhadap berbagai program produktif yang dijalankan oleh Warga Binaan.
“Kami berharap mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai pengelolaan usaha tani hortikultura, mulai dari aspek teknis hingga manajemen budidaya. Dengan demikian, praktik yang mereka jalani hari ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha pertanian di masa mendatang,” tambahnya.
Di sisi lain, Nurmala, selaku dosen pendamping, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan keterbukaan Lapas Tolitoli dalam menerima mahasiswa untuk melaksanakan praktikum lapangan.
“Kami sangat mengapresiasi kesempatan yang diberikan oleh Lapas Tolitoli. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang sangat berharga karena dapat berinteraksi langsung dengan pelaku budidaya serta melihat proses pengelolaan hortikultura secara nyata. Ini menjadi pembelajaran yang tidak dapat diperoleh secara maksimal hanya melalui teori di dalam kelas,” ujar Nurmala.
Ia berharap kerja sama antara STIP Tolitoli dan Lapas Tolitoli dapat terus berkembang sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis praktik.
“Kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran agribisnis saat ini. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat berkelanjutan dan menjadi bagian dari kurikulum praktik yang terstruktur sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi mahasiswa maupun pihak Lapas,” katanya.
Kehadiran mahasiswa STIP Tolitoli di area pembinaan hortikultura menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian di Lapas Tolitoli tidak hanya memberikan manfaat bagi Warga Binaan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang produktif antara p\Pemasyarakatan dan dunia pendidikan. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Tolitoli
What's Your Reaction?


