Suka Duka di Dalam Penjara, Napi Harapkan Perhatian Pemerintah

“Siapa yang mau masuk penjara?” Itulah jawaban yang lontarkan Yaman (33), narapidana di Lapas Malabero, Kota Bengkulu, saat ditanya Bengkulu Ekspress mengenai perasaannya di balik jeruji besi. Duda beranak satu tersebut, menyatakan, tidak ada orang yang mau masuk penjara. Meski mengaku tidak enak di dalam penjara, Yaman sudah 2 kali menjadi napi karena kasus pencurian. Bagaimana suka dukanya didalam Penjara? berikut laporannya. ==================== BAKTI SETIAWAN, Bengkulu. ==================== YAMAN (33), warga Panorama, Gading Cempaka, Kota Bengkulu, terpaksa menjalani hari-harinya di balik jeruji besi ruang tahanan Lapas Malabero. Duda dengan satu anak tersebut dihukum selama 1,5 tahun atas tindak pidana pencurian yang dilakukannya 2013 lalu. Ia membobol sebuah gudang yang berada di Kota Bengkulu. Saat ditemui ia mengaku telah tobat dan tak akan mengulangi perbuatan tersebut. Diakuinya ia melakukan hal tersebut karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Suka Duka di Dalam Penjara, Napi Harapkan Perhatian Pemerintah
“Siapa yang mau masuk penjara?” Itulah jawaban yang lontarkan Yaman (33), narapidana di Lapas Malabero, Kota Bengkulu, saat ditanya Bengkulu Ekspress mengenai perasaannya di balik jeruji besi. Duda beranak satu tersebut, menyatakan, tidak ada orang yang mau masuk penjara. Meski mengaku tidak enak di dalam penjara, Yaman sudah 2 kali menjadi napi karena kasus pencurian. Bagaimana suka dukanya didalam Penjara? berikut laporannya. ==================== BAKTI SETIAWAN, Bengkulu. ==================== YAMAN (33), warga Panorama, Gading Cempaka, Kota Bengkulu, terpaksa menjalani hari-harinya di balik jeruji besi ruang tahanan Lapas Malabero. Duda dengan satu anak tersebut dihukum selama 1,5 tahun atas tindak pidana pencurian yang dilakukannya 2013 lalu. Ia membobol sebuah gudang yang berada di Kota Bengkulu. Saat ditemui ia mengaku telah tobat dan tak akan mengulangi perbuatan tersebut. Diakuinya ia melakukan hal tersebut karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Saya tobat, tak mau lagi melakukan melakukan perbuatan pencurian. Sengsara disini, keluarga tak ada yang mengunjungi, hanya teman dekat saja yang datang,” aku pria asal Kota Pagar Alam, Sumsel tersebut. Banyak suka duka yang dialami di penjara. Ia mengaku banyak mendapatkan teman disana. Namun, disisi lain ia juga tak pernah berharap bisa kembali masuk ke dalam penjara. “Saya sudah 7 bulan disini, anak jauh, berada di Pelembang bersama neneknya (ibu Yaman),” ungkap pria yang sebelumnya juga pernah dipenjara atas kasus pencurian. Diakui pria dengan tubuh dipenuhi tato tersebut, seringkali ia merasakan sedih dan suntuk karena jauh dari keluarga. Namun ia tak bisa berbuat banyak, ia harus membalas hukuman yang telah diterimanya selama ini. Oleh sebab, itu berbagai cara dilakukannya untuk menghilangkan kerinduan terhadap keluarga. “Setiap hari, setelah pintu penjara dibuka penjaga, saya memanfaatkan waktu untuk membuat patung kerajinan yang terbuat dari kertas koran dan lem kayu. Saya belajar dari teman-teman (sesama narapidana) dan juga dibimbing oleh petugas lapas. Itulah yang saya lakukan untuk melepas rindu dan menghilangkan jenuh,” imbuhnya. Berbagai keterampilan diberikan diberikan di dalam lapas. Petugas pun membebaskan kepada narapidana untuk berekreasi sesuai dengan keinginan, selama tidak menggunakan barang-barang berbahaya, semua diperbolehkan. “Kami memang dihukum, namun disini kami dibina agar menjadi lebih baik. Setelah keluar dari sini (Lapas.red) saya berharap bisa membuat usaha kerajinan patung dari koran bekas,” katanya. Ia mengaku, selama di lapas, sudah banyak patung yang dibuat, dan hasilnya pun tak kalah menarik. Ia berharap ada orang yang bisa menghargai dengan cara membeli hasil karyanya tersebut. “Patung ini nantinya akan saya jual, kami menawarkannya dari mulut ke mulut kepada pengunjung. Siapa pun bisa membeli, hasilnya juga bagus kok,” ungkapnya. Saat sedang membuat patung kemarin, ia juga menitipkan harapan seluruh narapidana. Mereka menginginkan adanya perhatian dari pemerintah maupun dari pihak ketiga yang siap menampung hasil karya mereka. Dengan demikian, hasil karya mereka yang selama ini mereka buat bisa bermanfaat, baik bagi mereka sendiri maupun keluarga yang mereka tinggalkan. “Saya harap ada yang menampung hasil karya kami, sehingga karya kami tidak sia-sia. Selain itu, kewajiban kami sebagai tulang punggung keluarga juga bisa terpenuhi,” tutur Yaman, penuh harapan.(135) Sumber : bengkuluekspress.com

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0