Talkshow “Kami Berkarya Maka Kami Ada” Awali IPAFest 2018

Share:

Jakarta, INFO_PASIndonesian Prison Art Festival (IPAFest) 2018 mulai bergulir, Senin (23/4) di Taman Ismail Marzuki. Festival seni narapidana pertama di dunia ini dibuka dengan Talkshow “Kami Berkarya Maka Kami Ada” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki mulai pukul 10.00 WIB.

Talkshow tersebut menghadirkan Sri Puguh Budi Utami selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Sesditjen PAS) sebagai narasumber serta Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Restu Gunawan. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Cak Lontong dan Mas Akbar yang membuat jalannya talkshow semakin menarik dan hidup.

Talkshow diawali dengan dialog antara Cak Lontong dan Mas Akbar yang disisipi cerita ringan nan menggelitik tentang Pemasyarakatan, namun sarat makna. Menurut keduanya, di lapas banyak potensi dan seperti miniatur Indonesia.

Sesditjen PAS, Sri Puguh Budi Utami, menjelaskan IPAFest 2018 merupakan pengejawantahan konsepsi integrasi sosial bahwa pembinaan di lapas harus diketahui pula oleh masyarakat.

“Teman-teman di dalam mampu menghasilkan karya. Ketika hasilkan karya, bisa menutup masa lalu dengan produksi luar biasa sehingga dikenal karyanya sebagai penebusan kesalahan. Mereka juga memberik kontribusi kepada pembangunan negara,” tuturnya.

Utami menambahkan bahwa narapidana dididik, dibina, dan didorong melakukan sesuatu agar hasil karya mereka bisa dinikmati masyarakat. Bahkan, bisa menciptakan karya abadi.

“Kami dorong mereka dapat menghasilkan karya terbaik,” tambahnya.

Sementara itu, Restu Gunawan, mengacungi jempol atas gagasan IPAFest 2018 karena pada dasarnya setiap orang punya bakat seni tersendiri.

“Narapidana juga punya bakat seni. Di lapas diharapkan ada saluran seni seperti seni lukis dan musik sehingga setelah mereka dibina di lapas ketika bebas dapat mengandikan diri ke masyarakat,” pesannya.

Ia berharap setelah ini ada program lanjutan, misalnya Kemendikbud bekerja sama dengan komunitas dan mall dalam membina pengamen jalanan.

“Ditjen PAS harus bisa membuat program penyadaran narapidana agar kembali ke jalan yang benar karena seni adalah bagian dari terapi,” harap Restu.

Saat sesi tanya jawab, Kepala Rutan Rangkasbitung, Aliandra Harahap, menanyakan cara yang efektif untuk membangun kerja sama kesenian di tingkat daerah mengingat masih ada stigmatisasi di masyarakat.

“Selama ini kami terbantu stakeholder non-government, misalnya komunitas pengamen jalanan karena mereka lebih sensitif merasakan kehidupan di penjara,” urai Aliandra.

Atas pertanyaan tersebut, Restu Gunawan menguraikan pihaknya selama ini bekerja sama dengan komunitas dalam membantu pementasan. “Saya akan dorong Dewan Kesenian Banten agar masuk ke Rutan Rangkasbitung,” janjinya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Lapas Pekanbaru, Yulius Sahruzah, menanyakan tentang kepastian regulasi mengeluarkan narapidana yang akan pentas, khususnya di malam hari, mengingat narapidana Lapas Pekanbaru kerap diundang tampil di luar lapas.

Terkait hal tersebut, Sesditjen PAS berjanji pihaknya akan membahas ini lebih lanjut agar tidak ada penyimpangan regulasi bilamana ada narapidan yang hendak keluar lapas di malam hari.

Talkshow “Kami Berkarya Maka Kami Ada” Awali IPAFest 2018 | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya