Tekun dan Terlatih, Warga Binaan Rutan Pelaihari Produksi Telur Asin Berkualitas
Pelaihari, INFO_PAS — Suasana di depan Aula Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari pada Rabu (25/2) tampak berbeda dari biasanya. Beberapa Warga Binaan perempuan duduk rapi dengan peralatan di hadapan mereka. Di tengah ibadah puasa Ramadan, mereka mengikuti pembinaan pembuatan telur asin dengan penuh semangat.
Kegiatan ini merupakan program pembinaan kemandirian yang selaras dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026, khususnya pada poin kemandirian pangan dan pemasaran produk hasil karya Warga Binaan. Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga untuk memenuhi pesanan pasar yang meningkat jelang Ramadan.
Pembuatan telur asin dilakukan bertahap dan butuh ketelitian. Telur bebek dicuci bersih, dikeringkan, lalu diamplas perlahan agar pori-pori kulit terbuka dan garam lebih mudah meresap. Setelah itu, petugas pembinaan mengarahkan pembuatan pasta dari campuran abu gosok dan garam krosok yang diaduk hingga kental.
Telur kemudian dibaluri merata setebal kurang lebih 1–2 mm, disusun rapi dalam wadah, ditutup sisa campuran abu, lalu diperam 10–14 hari. Untuk rasa lebih asin dan kuning telur lebih masir, pemeraman bisa lebih lama. Usai peram, telur dibersihkan dan direbus dengan api kecil selama 1–2 jam agar matang sempurna tanpa pecah.
Meski berlangsung dengan suasana santai di ruang terbuka depan aula, kegiatan ini tetap dalam pengawasan petugas, Titin Partini. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap ketekunan para Warga Binaan.
“Walaupun sedang berpuasa, mereka tetap bekerja dengan teliti dan cekatan. Proses pembuatan telur asin ini memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian di setiap tahap. Alhamdulillah, mereka sudah sangat terlatih. Harapan kami, telur asin produksi Rutan Pelaihari lebih dikenal masyarakat dan menjadi produk yang dipercaya kualitasnya,” harap Titin.
Bagi Warga Binaan, pembinaan ini memiliki arti lebih dari sekadar kegiatan rutin. Wati, salah satu Warga Binaan, mendapatkan bekal berharga dari keterampilan yang dipelajarinya.
“Kegiatan ini tidak akan berhenti di sini. Ketika sudah bebas nanti, saya ingin mengembangkannya menjadi usaha keluarga yang bisa menghasilkan. Saya merasa beruntung bisa mengikuti pembinaan pembuatan telur asin ini karena ilmunya sangat bermanfaat untuk masa depan saya,” ungkap Wati.
Melalui pembinaan yang berlangsung sederhana, namun penuh makna ini, diharapkan lahir keterampilan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar Ramadan, tetapi juga menjadi jalan baru menuju kemandirian bagi para Warga Binaan setelah kembali ke masyarakat. (IR)
Kontributor: Rutan Pelaihari
What's Your Reaction?


