Warga Binaan Lapas Banjarmasin Lestarikan Sasirangan melalui Produksi Kaos Bernilai Ekonomi
Banjarmasin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus kembangkan program pembinaan kemandirian melalui pelestarian budaya lokal dengan memproduksi kaos sasirangan hasil karya Warga Binaan. Kegiatan ini menjadi wadah bagi Warga Binaan untuk mempelajari keterampilan sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi yang dipasarkan kepada masyarakat.
Pada Rabu (29/7), salah seorang Warga Binaan berinisial AD yang akrab disapa Sincan tampak tekun mengerjakan setiap tahapan pembuatan kaos sasirangan. Proses produksi diawali dengan membuat pola motif pada kain, dilanjutkan dengan menjelujur menggunakan benang sebagai pembatas warna, kemudian memasuki tahap pewarnaan hingga menghasilkan motif sasirangan yang khas. Setelah proses pewarnaan selesai, benang dilepas, kain dicuci, dikeringkan, lalu dijahit menjadi kaos sasirangan yang siap dipasarkan.
AD bersyukur dapat mempelajari keterampilan membatik sasirangan selama mengikuti program pembinaan di Lapas Banjarmasin. "Awalnya saya belum pernah membuat sasirangan. Di sini saya belajar dari dasar, mulai membuat pola sampai proses pewarnaan. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa menghasilkan kaos yang layak dijual. Saya berharap ilmu ini menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat," harapnya.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Bagus Paras Etika, menjelaskan pelatihan tersebut dirancang agar Warga Binaan memahami seluruh tahapan produksi sehingga memiliki kompetensi yang utuh. "Pembinaan pembuatan kaos sasirangan ini kami laksanakan bertahap, mulai dari pengenalan motif, pembuatan pola, proses menjelujur, hingga teknik pewarnaan. Kami ingin setiap Warga Binaan menguasai seluruh tahapan produksi sehingga memiliki keterampilan yang utuh serta menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual," jelasnya.
Kaos sasirangan hasil karya Warga Binaan dipasarkan melalui Stan ASTEDA di area menuju ruang kunjungan Lapas Banjarmasin. Stan tersebut menjadi etalase berbagai produk unggulan hasil pembinaan kemandirian sehingga dapat dilihat dan dibeli oleh keluarga Warga Binaan maupun masyarakat yang berkunjung.
Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan pembinaan sasirangan tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan kerja, tetapi juga menjadi upaya melestarikan budaya khas Kalimantan Selatan. "Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan kerja kepada Warga Binaan, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah. Harapannya, keterampilan yang mereka peroleh dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat sekaligus menghadirkan produk-produk unggulan yang diminati masyarakat melalui Stan ASTEDA," ujarnya.
Melalui pembinaan keterampilan berbasis budaya lokal, Lapas Banjarmasin terus berkomitmen menghadirkan program pembinaan produktif, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Selain melestarikan warisan budaya Kalimantan Selatan, kegiatan ini juga membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan membuka peluang usaha sebagai bekal ketika kembali berbaur di tengah masyarakat. (IR)
Kontributor: Lapas Banjarmasin
What's Your Reaction?


