Warga Binaan Lapas Banjarmasin Perkuat Numerasi, Wawasan, dan Kemampuan Berbahasa lewat Pendidikan Kesetaraan

Warga Binaan Lapas Banjarmasin Perkuat Numerasi, Wawasan, dan Kemampuan Berbahasa lewat Pendidikan Kesetaraan

Banjarmasin, INFO_PAS – Pendidikan di balik tembok Pemasyarakatan terus diarahkan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal kembali ke tengah masyarakat. Hal itu terlihat dalam program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin bersama PKBM Azzahra pada Sabtu (5/9).

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik, Gilang Wisnuwardhana, menjelaskan pendidikan kesetaraan menjadi salah satu bagian penting dalam pembinaan untuk meningkatkan kapasitas Warga Binaan. “Pembelajaran kesetaraan kami dorong agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Karena itu, Warga Binaan kami dorong untuk mengikuti setiap proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Dalam satu rangkaian pembelajaran, peserta didik mendapatkan materi yang berbeda sesuai jenjang pendidikan. Paket A mempelajari Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), Paket B mendalami Konsep Geografi, sedangkan Paket C mengasah kemampuan Bahasa Inggris melalui materi Leave Taking.

Pada jenjang Paket A, Tutor PKBM Azzahra, Norifansyah, membimbing peserta didik memahami FPB melalui proses menentukan faktor dari masing-masing bilangan, menemukan faktor persekutuan, hingga menentukan faktor persekutuan terbesar. Latihan dengan bilangan bernilai lebih besar turut diberikan untuk melatih ketelitian dan kemampuan menerapkan konsep.

“Yang terpenting bukan hanya mendapatkan jawaban, tetapi memahami langkah-langkahnya. Dengan mengetahui faktor dari masing-masing bilangan, Warga Binaan akan lebih mudah menemukan faktor persekutuan hingga menentukan FPB,” jelas Norifansyah.

Beranjak ke Paket B, materi Konsep Geografi yang disampaikan Tutor PKBM Azzahra, Anisa. Ia mengajak peserta didik memahami hubungan manusia dengan bumi, perkembangan suatu wilayah, dan karakteristik yang membuat setiap daerah memiliki keunikan tersendiri.

“Kami ajak Warga Binaan memahami bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik dan sejarahnya masing-masing. Dari sana, kita dapat belajar untuk lebih mengenal lingkungan dan menghargai bumi sebagai tempat kehidupan,” jelas Anisa.

Sementara itu, peserta didik Paket C memperoleh pembelajaran Bahasa Inggris dengan materi Leave Taking bersama Tutor PKBM Azzahra, Sukma Rani. Materi tersebut memperkenalkan berbagai ungkapan untuk mengakhiri percakapan atau berpamitan sekaligus melatih penggunaannya dalam komunikasi sederhana sehari-hari.

“Melalui materi Leave Taking, peserta didik belajar menggunakan ungkapan yang tepat ketika mengakhiri percakapan atau berpamitan. Harapannya, mereka tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga menggunakannya dalam komunikasi sederhana,” jelas Sukma.

Beragam materi tersebut mendapat respons positif dari peserta didik. Warga Binaan berinisial YA mengaku pembelajaran FPB membuatnya lebih memahami cara menyelesaikan persoalan matematika secara bertahap. “Materinya menarik karena kami diajarkan langkah-langkahnya secara jelas. Setelah mengikuti pembelajaran, saya jadi lebih memahami bagaimana menentukan faktor dan mencari FPB dari suatu bilangan,” ujarnya.

Sementara itu, Warga Binaan BU menilai materi Geografi memperluas pemahamannya mengenai perbedaan karakteristik setiap daerah. “Pembelajaran hari ini membuat saya lebih memahami bahwa setiap daerah memiliki kondisi dan ciri khas yang berbeda. Saya juga jadi lebih mengerti pentingnya menjaga dan menghargai bumi sebagai tempat kita hidup,” ungkapnya.

Pengalaman serupa dirasakan Warga Binaan DR yang mengikuti materi Bahasa Inggris. Menurutnya, materi Leave Taking mudah dipahami karena berkaitan dengan percakapan sehari-hari.

“Materinya cukup mudah dipahami karena kami belajar ungkapan yang bisa digunakan dalam percakapan. Saya jadi lebih mengetahui cara berpamitan atau mengakhiri percakapan dalam Bahasa Inggris dengan tepat,” ujar DR.

Secara terpisah, Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan pendidikan merupakan investasi penting dalam proses pembinaan. Kesempatan belajar, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun kemampuan yang menunjang kehidupan Warga Binaan setelah menyelesaikan masa pidana.

“Pembinaan melalui pendidikan adalah investasi untuk masa depan. Kami ingin Warga Binaan terus mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat,” ungkap Akhmad.

Melalui program pendidikan kesetaraan bersama PKBM Azzahra, Lapas Banjarmasin tidak hanya membuka akses pendidikan bagi Warga Binaan, tetapi juga menghadirkan ruang untuk mengasah kemampuan berpikir, memperluas wawasan, dan meningkatkan keterampilan komunikasi. Proses belajar tersebut menjadi ikhtiar mempersiapkan Warga Binaan agar lebih siap melangkah ketika kembali ke masyarakat. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Banjarmasin

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0