Bapas Tanjungpandan Gandeng BPVP Belitung, Latih Klien Pemasyarakatan Jadi Barista Mandiri
Belitung, INFO_PAS – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Tanjungpandan bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung gelar Pelatihan Barista bagi Klien Pemasyarakatan. Kegiatan yang akan berlangsung mulai Senin (19/10) hingga 16 hari ke depan ini dibuka oleh Kepala Subseksi Bimbingan Klien Dewasa, M. Yeyen Purbasari, yang membuka kesempatan bagi peserta untuk bekerja di industri kopi maupun merintis usaha secara mandiri.
Yeyen menyampaikan pembimbingan Klien Pemasyarakatan perlu diarahkan pada pengembangan potensi diri dan peningkatan keterampilan sebagai bekal untuk membangun masa depan yang lebih baik. “Kami ingin memberikan kesempatan kepada Klien Pemasyarakatan untuk mengembangkan potensi diri dan memperoleh keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja maupun merintis usaha secara mandiri. Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian, mengembangkan usaha secara bertahap, dan membangun kehidupan yang lebih produktif,” harapnya.
Kerja sama dengan BPVP Belitung merupakan sinergi dalam menghadirkan pembimbingan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi dan kemandirian Klien Pemasyarakatan. Upaya tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita dalam penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan kewirausahaan, serta mendukung pelaksanaan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sesuai sasaran program yang relevan.
Instruktur Barista BPVP Belitung, Aivitno, menyampaikan pelatihan barista tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat minuman kopi, tetapi juga pada pemahaman proses kerja, ketelitian, kebersihan, konsistensi kualitas, dan pelayanan kepada pelanggan. “Dunia barista memiliki peluang yang dikembangkan menjadi pekerjaan maupun usaha. Peserta perlu memahami bahwa membuat minuman bukan hanya soal rasa, tetapi juga membutuhkan ketelitian, kebersihan, konsistensi, dan pelayanan yang baik. Kami berharap peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan sungguh-sungguh agar keterampilan yang diperoleh diterapkan untuk memasuki dunia kerja atau memulai usaha sendiri,” harapnya.
Aivitno juga menyoroti peluang usaha di sektor kopi dan minuman di Belitung. Budaya warung kopi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat, ditambah berkembangnya kedai kopi modern, coffee shop, dan kafe, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dengan konsep yang beragam.
“Di Belitung, warung kopi sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Sekarang juga ada peluang untuk mengembangkan usaha kedai kopi, coffee shop, maupun kafe dengan konsep yang menarik. Keterampilan barista bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga menjadi modal untuk membangun usaha sendiri. Peserta bisa memulai dari skala kecil dengan peralatan sederhana, kemudian mengembangkannya secara bertahap sesuai kemampuan dan kebutuhan pasar,” jelas Aivitno.
Ia mendorong peserta agar memanfaatkan berbagai kesempatan pemasaran, termasuk kegiatan bazar UMKM, untuk memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan akan lebih bermanfaat apabila diikuti dengan keberanian memulai usaha, kemampuan menjaga kualitas, dan kemauan untuk terus belajar.
“Bazar UMKM merupakan salah satu kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk dan menguji minat konsumen. Akan sangat disayangkan jika peluang usaha yang tersedia tidak dimanfaatkan karena kita belum memiliki keterampilan yang memadai. Karena itu, peserta harus berani memulai, belajar menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, menjaga kualitas, dan memberikan pelayanan yang baik. Tidak harus langsung membuka kafe besar. Usaha bisa dimulai dari yang sederhana, lalu dikembangkan ketika pelanggan dan kemampuan pengelolaannya semakin meningkat,” tambah Aivitno.
Antusiasme mengikuti pelatihan juga ditunjukkan oleh RA, salah seorang Klien Pemasyarakatan berusia muda yang mengaku memiliki ketertarikan terhadap dunia kopi. Kebiasaannya mengunjungi kedai kopi membuat dirinya ingin mengenal lebih jauh keterampilan di balik penyajian berbagai minuman.
“Saya memang suka nongkrong di kedai kopi dan tertarik melihat bagaimana barista membuat minuman. Selama ini saya hanya menikmati kopi, tetapi belum memahami cara membuatnya secara profesional. Ketika mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dari Bapas, saya merasa cocok dengan bidang ini. Saya ingin belajar dengan serius supaya memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk bekerja atau membuka usaha sendiri nantinya,” tutur RA.
Melalui pelatihan tersebut, Bapas Tanjungpandan bersama BPVP Belitung berharap Klien Pemasyarakatan meningkatkan kompetensi, memperluas kesempatan kerja, dan mempersiapkan diri menjadi pelaku usaha yang mandiri. Kolaborasi ini menjadi upaya menghadirkan pembimbingan yang memberikan manfaat nyata, sehingga Klien Pemasyarakatan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi, membangun masa depan yang lebih baik, dan berperan positif di tengah masyarakat. (IR)
Kontributor: Bapas Tanjungpandan
What's Your Reaction?


