Cahaya Al-Qur’an di Balik Jeruji, Lapas Luwuk Gencarkan Program Dirosa dan Tahsin
Luwuk, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk perkuat pembinaan kepribadian Warga Binaan melalui kegiatan keagamaan berkelanjutan. Salah satunya dengan menggencarkan program Belajar Dirosa yang dipadukan dengan pembelajaran tahsin Al-Qur’an, Senin (20/4).
Kegiatan rutin ini merupakan kolaborasi antara Lapas Luwuk dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banggai untuk tingkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus memperbaiki kualitas bacaan sesuai kaidah tajwid. Program ini menyasar Warga Binaan yang masih dalam tahap dasar hingga yang ingin memperindah bacaan Al-Qur’an mereka.
Dalam suasana yang tertib dan penuh kekhusyukan, para Warga Binaan ikuti pembelajaran dengan penuh antusias. Mereka dibimbing secara bertahap mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, pelafalan yang benar, hingga penerapan hukum tajwid dalam bacaan Al-Qur’an.
Program dirosa dan tahsin ini bukan sekadar kegiatan pembinaan biasa, melainkan langkah nyata dalam membangun kesadaran spiritual serta membentuk karakter Warga Binaan menjadi lebih religius, disiplin, dan berakhlak baik sebagai bekal kehidupan di masa depan.
Plh. Kepala Lapas Luwuk, Irpan Anwar, menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan menjadi salah satu pilar penting dalam proses Pemasyarakatan. Melalui kegiatan ini, diharapkan Warga Binaan tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Melalui program Dirosa dan tahsin ini, kami ingin menghadirkan pembinaan yang menyentuh hati dan mampu membawa perubahan nyata bagi Warga Binaan. Ini adalah bagian dari upaya membentuk pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke masyarakat,” ujar Irpan.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Ia menilai bahwa pembinaan berbasis keagamaan memiliki peran strategis dalam mendukung proses rehabilitasi Warga Binaan.
“Pembelajaran dirosa dan tahsin ini merupakan langkah positif dalam memperkuat pembinaan mental dan spiritual. Saya berharap kegiatan ini terus dilaksanakan secara konsisten dan menjadi bagian penting dalam menciptakan Warga Binaan yang lebih baik dan produktif,” ungkap Bagus.
Di sisi lain, pengajar, Ustaz Dwi, menyampaikan bahwa proses pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami oleh Warga Binaan. Ia juga menekankan pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam belajar membaca Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, Warga Binaan sangat antusias mengikuti program ini. Kami mulai dari dasar hingga tahsin, dan perlahan mereka menunjukkan perkembangan yang baik. Yang terpenting adalah kemauan belajar dan istiqamah,” ujar Ustaz Dwi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Lapas Luwuk hadirkan pembinaan yang humanis, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemulihan karakter Warga Binaan. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Luwuk
What's Your Reaction?


