Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Tolitoli Turut Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Tolitoli Turut Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Tolitoli, INFO_PAS — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tolitoli terus perkuat program pembinaan kemandirian Warga Binaan melalui kegiatan pertanian dan peternakan,. Ini merupakan dukungan nyata terhadap Program Asta Cita RI, khususnya pada poin pembangunan sumber daya manusia unggul, produktif, berdaya saing, dan penguatan ketahanan pangan nasional.

Pada sektor pertanian, empat Warga Binaan terlibat aktif mengelola lahan kebun seluas 1.562 m² dengan komoditas hortikultura, seperti sawi (270 kg), kangkung (382 kg), dan bayam (180 kg) selama periode Oktober-November 2025. Selain itu, terdapat kebun branggang seluas 771 m² yang dikelola tiga Warga Binaan dengan jenis tanaman serupa. Hasil panen dipasarkan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar Lapas sekaligus menjadi sumber pembelajaran ekonomi produktif bagi para Warga Binaan.

Sementara di bidang peternakan, satu Warga binaan bertanggung jawab memelihara ayam dan bebek entok. Hasil ternak dijual mulai dari anakan hingga usia 5–6 bulan saat mencapai nilai ekonomi optimal.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan dan keterampilan kerja, tetapi juga mendukung penyediaan protein hewani bagi masyarakat sekitar. Secara ekonomi, program ini menunjukkan hasil signifikan. Dengan target Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp .170.000, realisasi mencapai Rp11.458.000 atau 124,95%  yang menegaskan keberhasilan dan efektivitas pembinaan berbasis kemandirian.

“Pembinaan ini memberikan bekal keterampilan dan karakter bagi Warga Binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan kemampuan yang produktif,” tutur Kepala Lapas Tolitoli, Muhammad Ishak, Rabu (12/11).

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik, Feldianto, menjelaskan Warga Binaan dilatih tidak hanya secara teknis, tetapi juga dalam hal disiplin dan kerja tim. “Pembinaan seperti ini membantu membentuk mental kerja yang kuat dan positif ketika mereka kembali ke lingkungan sosial,” tambahnya.

Senada, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Frengki, menambahkan pihaknya memberikan pemahaman tentang nilai ekonomi, pengelolaan produksi, dan pemasaran. “Dengan begitu, Warga Binaan memiliki peluang membuka atau terlibat dalam usaha produktif setelah bebas,” jelasnya.

Salah satu Warga Binaan, SL, mengungkapkan rasa syukur dan semangatnya menjalani pembinaan. “Awalnya saya tidak punya pengalaman bertani. Setelah ikut program ini, saya jadi bisa menanam, merawat, sampai panen. Hasilnya bisa membantu kebutuhan harian saya di dalam, sisanya disimpan untuk keluarga di rumah. Saya senang bisa ikut berkontribusi meski dari balik jeruji,” ungkapnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Warga Binaan memperoleh premi sebesar 35% dari hasil penjualan panen. Sebagai contoh, pada bulan Oktober 2025, hasil penjualan mencapai Rp7.000.000 sehingga total premi sebesar Rp2.450.000 dibagikan kepada tujuh Warga Binaan yang bekerja di kebun, dengan besaran yang disesuaikan menurut tingkat keaktifan dan tanggung jawab masing-masing.

“Premi yang kami dapatkan terasa sangat berarti. Bukan soal jumlahnya, tapi rasa bangga bahwa kami bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu dengan cara yang baik,” kata SL.

Program ketahanan pangan dan peternakan di Lapas Tolitoli diharapkan terus berkembang sebagai bagian dari Pemasyarakatan yang bermartabat, berkelanjutan, dan berdampak sosial-ekonomi nyata, selaras dengan agenda pembangunan nasional. Melalui berbagai kegiatan produktif ini, Lapas Tolitoli tidak hanya berfokus pada pembinaan internal, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, baik melalui ketersediaan hasil pertanian dan peternakan, maupun pembentukan mantan Warga Binaan yang lebih siap berkontribusi secara positif di tengah masyarakat. (IR)

 

Kontributor: Lapas Tolitoli

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
1
wow
0