Dari Peternakan Bebek hingga Pembuatan Teh Talua, Ini Aktivitas di Lapas Suliki

Dari Peternakan Bebek hingga Pembuatan Teh Talua, Ini Aktivitas di Lapas Suliki

Suliki, INFO_PAS – Dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Suliki, aktivitas peternakan bebek petelur menjadi upaya membangun kemandirian dan produktivitas Warga Binaan. Bukan sekadar memelihara ternak, kegiatan ini juga membuka peluang pemanfaatan hasil peternakan menjadi produk olahan bernilai tambah, salah satunya minuman tradisional khas Minangkabau, teh talua.

Aktivitas peternakan bebek petelur dilakukan secara teratur dan terjadwal. Pemberian pakan dilaksanakan sebanyak dua kali sehari, yakni pagi dan sore, guna memenuhi kebutuhan nutrisi serta mendukung pertumbuhan dan produktivitas bebek. Selain itu, kebersihan kandang juga menjadi perhatian penting dengan kegiatan pembersihan yang dilakukan satu kali sehari agar lingkungan ternak tetap bersih, sehat, dan nyaman.

Kepala Lapas Suliki, Waskito Budi Darmo, mendukung kegiatan peternakan sebagai pembinaan yang memberikan pengalaman dan keterampilan praktis bagi Warga Binaan. “Kami ingin menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian kepada Warga Binaan. Kami berharap keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan menjadi bekal yang bermanfaat ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” harapnya, Jumat (30/10).

Menariknya, hasil peternakan bebek petelur tidak hanya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk olahan khas daerah. Telur bebek dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembuatan teh talua, minuman tradisional Minangkabau yang dikenal memiliki cita rasa khas. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemeliharaan ternak, tetapi juga membuka wawasan mengenai pengolahan hasil peternakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumtera Barat, Kunrat Kasmiri, menekankan pentingnya mengembangkan program pembinaan yang produktif dan berkelanjutan di lingkungan Pemasyarakatan. “Pembinaan kemandirian perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi Warga Binaan. Peternakan dan pemanfaatan hasilnya merupakan salah satu contoh bagaimana potensi yang ada dapat dikembangkan menjadi sarana pembelajaran, peningkatan keterampilan, dan persiapan untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat,” tuturnya.

Senada, Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, Leonardo Silalahi, menyoroti pentingnya mengintegrasikan pembinaan keterampilan dengan kebutuhan dan peluang yang tersedia di masyarakat. “Pembinaan yang baik tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan praktis yang dapat dimanfaatkan setelah Warga Binaan menyelesaikan masa pidana. Kegiatan seperti peternakan bebek petelur diharapkan menumbuhkan etos kerja, kedisiplinan, dan jiwa kewirausahaan sehingga Warga Binaan memiliki bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut merupakan dukungan Lapas Suliki terhadap Asta Cita Presiden RI serta 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Pemanfaatan hasil peternakan sebagai bahan olahan pangan juga mencerminkan upaya mengembangkan keterampilan sekaligus memperkenalkan potensi usaha yang dapat dipelajari Warga Binaan.

Melalui perawatan yang rutin, mulai dari pemberian pakan hingga menjaga kebersihan kandang, Lapas Suliki berupaya menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, dan semangat berwirausaha. Keterampilan tersebut diharapkan menjadi bekal positif bagi Warga Binaan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Suliki

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0