Ibadah GPIB Maranatha di Lapas Banjarmasin Tekankan Pengendalian Diri dan Keteladanan

Ibadah GPIB Maranatha di Lapas Banjarmasin Tekankan Pengendalian Diri dan Keteladanan

Banjarmasin, INFO_PAS – Ibadah rutin bulanan bagi Warga Binaan Kristiani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin jadi ruang untuk merefleksikan sikap hidup, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam jalani kehidupan. Pesan tersebut disampaikan dalam pelayanan ibadah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Maranatha di Gereja Oikumene Lapas Banjarmasin, Selasa (15/9).

Ibadah diikuti Warga Binaan Kristiani bersama Pembina Gereja Oikumene Lapas Banjarmasin. Kegiatan diawali dengan pujian dan penyembahan, kemudian dilanjutkan dengan khotbah yang disampaikan Pdt. Novita Rismayanti, S.Th.

Mengangkat firman Tuhan dari Kitab Perjanjian Baru, 1 Timotius 3:1–7, khotbah mengajak jemaat memahami bahwa keinginan untuk memimpin maupun melayani Tuhan merupakan tugas yang mulia, tetapi juga menuntut tanggung jawab moral yang tinggi.

Seseorang yang dipercaya memimpin dan melayani dituntut memiliki sikap bijaksana, mampu menahan diri, sopan, tidak peminum, tidak mudah marah, suka memberi tumpangan, bukan hamba uang, serta mampu menjadi teladan bagi sesama. Nilai-nilai tersebut juga relevan diterapkan Warga Binaan dalam kehidupan sehari-hari selama menjalani proses pembinaan.

Pembina Gereja Oikumene Lapas Banjarmasin, Erik Simanjuntak, mengajak Warga Binaan untuk tetap rendah hati dan terbuka terhadap proses belajar.

“Dalam renungan ini, kita diingatkan untuk tetap rendah hati dan mau terus belajar dari orang lain, tanpa merasa lebih suci atau lebih hebat,” ujar Erik.

Pesan tersebut turut menjadi refleksi bagi LTR, salah satu Warga Binaan yang mengikuti ibadah. Ia mengaku mendapatkan pelajaran tentang pentingnya mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan.

“Saya belajar untuk tidak terpancing emosi saat menghadapi masalah. Saya memilih membawanya dalam doa agar bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,” ungkap LTR.

Ibadah rutin tersebut jadi bagian dari pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan. Pendalaman nilai-nilai keagamaan diharapkan membantu mereka membangun sikap bijaksana dan mampu mengendalikan diri selama menjalani pembinaan.

Secara terpisah, Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter Warga Binaan.

“Kami terus memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk menjalankan ibadah dan memperdalam nilai-nilai keagamaannya. Harapannya, setiap pesan yang mereka terima tidak berhenti di tempat ibadah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengendalikan diri, membangun kerendahan hati, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Akhmad.

Pembinaan keagamaan tersebut bagian dari pembinaan kepribadian di Lapas Banjarmasin sekaligus bekal bagi Warga Binaan untuk jalani kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Banjarmasin

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0