Kamar Mewah di Lapas: Ambil Pelajarannya, Jangan Terulang
Pernah ada kabar tentang sebuah kamar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang tampil jauh dari kata sederhana. Fotonya beredar, komentar berdatangan, dan semua orang bertanya hal yang sama: kok bisa?
Kita tidak sedang mencari siapa yang paling salah. Proses hukum biar berjalan di jalurnya. Yang ingin kita tanyakan pada diri sendiri lebih dekat: kalau satu keputusan kecil di tempat kerja bisa sampai sejauh ini, apa saja yang ikut terseret?
Dimulai dari Hal Kecil
Tidak ada petugas yang bangun pagi lalu berniat merusak hidupnya. Biasanya semua dimulai dari hal yang terasa sepele. Satu permintaan tolong yang sulit ditolak. Satu pemberian yang "tidak enak kalau dikembalikan". Satu aturan yang dilonggarkan, sekali ini saja.
Masalahnya, sekali ini saja jarang berhenti di sekali. Yang kecil membuka jalan untuk yang lebih besar, dan lama-lama yang salah terasa biasa. Sampai suatu hari semuanya terbuka dan tidak ada lagi jalan mundur.
Yang Pertama Menanggung: Diri Sendiri
Ketika perbuatan itu terungkap, yang pertama kena adalah kita sendiri. Pemeriksaan, sanksi disiplin, bahkan bisa sampai pemberhentian dan proses pidana bila terbukti. Karier yang dibangun belasan tahun bisa selesai dalam hitungan minggu.
Tapi, yang lebih berat sering tidak tertulis di surat keputusan. Tidur tidak lagi nyenyak. Setiap dering telepon bikin jantung berdebar. Kita menunduk saat bertemu rekan yang dulu sering bercanda bersama. Uang yang diterima mungkin habis dalam sebulan, tetapi rasa malunya bisa menempel bertahun-tahun.
Yang Paling Sakit: Keluarga
Di rumah, ada orang-orang yang tidak ikut memilih tetapi ikut menanggung. Istri atau suami yang selama ini percaya, tiba-tiba harus menjelaskan kepada tetangga dan keluarga besar apa yang sebenarnya terjadi. Anak-anak yang tadinya bangga bilang "Bapak saya petugas Lapas", kini mungkin mendengar bisik-bisik di sekolah. Penghasilan bisa terhenti, cicilan tetap jalan, dan kebutuhan sekolah tidak mau menunggu.
Bayangkan seorang anak yang bertanya, "Pak, kata teman-teman Bapak masuk berita. Itu benar?" Tidak ada jawaban yang enak untuk pertanyaan itu. Tidak ada tambahan uang yang bisa membeli kembali rasa bangga seorang anak pada orang tuanya. Kita bekerja untuk keluarga. Jangan sampai cara kita bekerja justru yang melukai mereka.
Yang Ikut Tercoreng: Rekan dan Institusi
Satu foto bisa menutupi kerja jujur ribuan orang. Masyarakat jarang membedakan oknum dan institusi. Petugas yang setiap malam berjaga, yang menahan lelah, yang menolak godaan dengan tenang, ikut menanggung pandangan curiga hanya karena seragam yang sama.
Di dalam, suasananya ikut berubah. Rekan saling curiga. Pimpinan yang tidak tahu apa-apa ikut dimintai pertanggungjawaban. Pembinaan yang sudah susah payah dibangun jadi terganggu karena Warga Binaan melihat aturan bisa ditawar. Kalau yang punya uang bisa dapat kamar lebih baik, buat apa yang lain menurut? Wibawa petugas turun dan pekerjaan jadi lebih berat bagi semua orang, termasuk mereka yang tidak ada hubungannya dengan kasus itu.
Ada juga bahaya yang jarang dibicarakan. Petugas yang pernah menerima sesuatu dari Warga Binaan punya "utang budi". Utang budi di Lapas bisa ditagih kapan saja dengan permintaan yang makin sulit ditolak. Dari kamar mewah, bisa merembet ke barang terlarang masuk, informasi bocor, sampai keamanan blok terganggu.
Yang Akhirnya Menanggung: Negara dan Masyarakat
Lapas dibangun dan dijalankan dengan uang rakyat, untuk satu tujuan: membina orang agar kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik. Ketika pembinaan dirusak oleh perlakuan istimewa, tujuan itu ikut gagal.
Kepercayaan publik menjadi korban berikutnya. Orang mulai berpikir hukum hanya tajam ke bawah. Korban kejahatan dan keluarganya merasa dikhianati karena orang yang menyakiti mereka justru menjalani pidana dengan nyaman. Rasa keadilan yang retak itu tidak mudah ditambal. Negara yang rakyatnya tidak lagi percaya pada penegakan hukumnya adalah negara yang kehilangan pegangan.
Dari satu kamar, kerugiannya merambat ke mana-mana: nama baik institusi, kepercayaan rakyat, bahkan tujuan pemidanaan itu sendiri.
Kabar Baiknya: Semua Bisa Dicegah
Rantai ini bisa diputus di titik mana pun dan titik paling awal ada di tangan kita masing-masing. Tolak sejak awal. Penolakan paling mudah adalah yang pertama.
Kalimat sederhana cukup: "Maaf, aturannya berlaku untuk semua, termasuk saya." Orang yang menolak dengan tenang biasanya lebih dihormati, bukan dijauhi.
Ingat siapa yang menunggu di rumah. Sebelum menerima sesuatu yang tidak semestinya, bayangkan wajah mereka saat harus menanggung akibatnya.
Berani menegur, berani melapor. Mengingatkan rekan yang mulai melewati batas bukan mengkhianati. Itu menyelamatkan dia dan keluarganya sebelum semuanya terlambat. Pimpinan pun wajib memastikan pelapor merasa aman, bukan terancam.
Jangan dipendam sendiri. Kalau sedang terhimpit masalah ekonomi atau tekanan lain, bicarakan dengan rekan atau atasan yang dipercaya. Jalan keluar yang lurus selalu ada, meski kadang lebih lambat.
Seragam yang kita pakai bukan hanya milik pribadi. Ada keluarga yang ikut bangga di belakangnya, ada rekan yang ikut menjaga namanya, dan ada negara yang menitipkan kepercayaan padanya.
Kamar mewah itu sudah menjadi pelajaran, dan harganya sudah dibayar mahal. Tugas kita sekarang sederhana: jangan sampai ada orang lain yang harus membayar harga yang sama. Mari bekerja dengan benar, bukan karena takut diawasi, tetapi karena kita sayang pada keluarga, pada rekan, dan pada kehormatan yang sudah kita pikul bersama.
Penulis: Haris (Penyuluh Hukum pada Kanwil Ditjenpas Kalsel)
What's Your Reaction?


