Konsisten Produksi Tempe, Lapas Batulicin Perkuat Pembinaan Kemandirian Berbasis Ketahanan Pangan

Konsisten Produksi Tempe, Lapas Batulicin Perkuat Pembinaan Kemandirian Berbasis Ketahanan Pangan

Batulicin, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin secara konsisten produksi 30 bungkus tempe setiap hari sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Produksi tersebut gunakan sekitar 4,5 kilogram kedelai dan hasilnya dimanfaatkan untuk penuhi kebutuhan konsumsi Warga Binaan melalui Dapur Sehat Lapas Batulicin.

Seluruh proses produksi dikelola oleh Warga Binaan yang mengikuti program pembinaan kemandirian dengan pendampingan petugas. Tahapannya meliputi penimbangan kedelai, pencucian, perendaman, perebusan, fermentasi, hingga pengemasan.

Selain hasilkan bahan pangan, kegiatan ini jadi sarana bagi Warga Binaan untuk belajar keterampilan, membangun disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan etos kerja sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, mengatakan pembinaan kemandirian harus memberi manfaat nyata bagi Warga Binaan melalui keterampilan yang dapat diterapkan setelah bebas.

"Kami berkomitmen menghadirkan program pembinaan kemandirian yang tidak berhenti pada aktivitas produksi semata, tetapi benar-benar membentuk keterampilan, karakter, dan etos kerja Warga Binaan. Konsistensi produksi tempe setiap hari menunjukkan bahwa proses pembinaan berjalan berkelanjutan sehingga Warga Binaan memiliki bekal kompetensi yang bermanfaat untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat," tegas Thoha.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, mengatakan produksi tempe dirancang agar Warga Binaan kuasai keterampilan yang aplikatif sekaligus biasakan budaya kerja yang produktif.

"Produksi tempe kami laksanakan secara konsisten setiap hari sebagai bagian dari pembinaan kemandirian yang berkelanjutan. Melalui setiap tahapan produksi, Warga Binaan belajar menguasai keterampilan, bekerja sesuai prosedur, menjaga kualitas hasil, serta membangun sikap disiplin dan tanggung jawab yang menjadi bekal penting setelah menyelesaikan masa pembinaan," ujar Harry, Senin (3/8).

Salah seorang Warga Binaan, K, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti program tersebut. Menurutnya, keterampilan mengolah tempe dapat jadi bekal untuk membuka usaha setelah kembali ke masyarakat.

"Saya belajar mulai dari proses awal sampai tempe siap dikemas. Kegiatan ini membuat saya memiliki keterampilan baru, lebih disiplin dalam bekerja, dan memberikan keyakinan bahwa ilmu yang diperoleh di Lapas dapat menjadi modal untuk mencari penghasilan secara halal setelah bebas nanti," ungkap K.

Program produksi tempe jadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian di Lapas Batulicin yang menggabungkan pelatihan keterampilan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi Warga Binaan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan selama masa pembinaan maupun setelah mereka kembali ke masyarakat. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Batulicin

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0