Kreativitas di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Tual Buat Ikat Pinggang dari Akrilik dan Eboni
Langgur, INFO_PAS – Jeruji besi tidak menjadi penghalang untuk melahirkan karya seni bernilai ekonomi tinggi. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tual, sejumlah Warga Binaan sukses menyulap lembaran akrilik dan kayu arang (eboni) menjadi produk fesyen eksklusif berupa ikat pinggang pinggang berkelas yang kini diburu pasar konsumen.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Iswan Ternate, menjelaskan pembuatan ikat pinggang akrilik ini merupakan salah satu pilar utama pembinaan kemandirian di Lapas Tual. "Kami berkomitmen penuh untuk memberikan pembinaan yang tidak hanya mengisi waktu, tetapi benar-benar membekali mereka dengan keahlian nyata. Kerajinan ikat pinggang akrilik ini menuntut kreativitas dan presisi tinggi. Kami melihat potensi pasar yang besar. Terbukti, produk hasil karya Warga Binaan kami ini memiliki daya saing kuat di luar sana," ujarnya, Senin (25/5).
Sementara itu, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, L. Laitera, memaparkan teknis produksi dan tingginya antusiasme pasar terhadap produk sabuk akrilik ini. Setiap hiasan dan sambungan sabuk dikerjakan secara manual agar estetika eksklusifnya terjaga. Saat ini, pesanan terus mengalir, mulai dari masyarakat umum, pegawai instansi pemerintah, hingga pelaku usaha lokal.
“Melalui kegiatan ini, Warga Binaan bisa menghasilkan premi yang menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak sekaligus tabungan bagi mereka sendiri," jelas Laitera.
Bagi para Warga Binaan, ruang kegiatan kerja ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang pembuktian diri bahwa mereka mampu berubah menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat, Ekrat, salah satu Warga Binaan yang terampil merakit ikat pinggang akrilik, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas pelatihan yang ia terima.
"Dulu saya tidak punya keahlian apa-apa. Di sini saya diajarkan dari nol bagaimana memotong akrilik dan memadukannya sampai rapi. Rasanya bangga sekali saat tahu sabuk yang saya buat ini dibeli dan dipakai orang di luar sana. Ini modal dan semangat baru bagi saya untuk membuka usaha sendiri nanti setelah bebas," tutur Ekrat.
Melalui program ini, Lapas Tual membuktikan keberhasilannya dalam mentransformasi Lapas menjadi pusat produktivitas. Ketika masa pidana usai, para Warga Binaan ini tidak lagi keluar sebagai mantan Narapidana, melainkan sebagai perajin kreatif yang siap membangun ekonomi keluarga secara mandiri. (IR)
Kontributor: Lapas Tual
What's Your Reaction?


