Lapas Batulicin Kembangkan Budidaya Maggot untuk Pakan Ternak dan Ikan
Batulicin, INFO_PAS – Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin lanjutkan perawatan baby maggot hasil penetasan 50 gram telur lalat Black Soldier Fly (BSF), Selasa (13/10). Perawatan ini bagian dari tahapan budidaya untuk hasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan sekaligus dukung pengembangan indukan.
Baby maggot yang dirawat telah berusia tujuh hari dan masih membutuhkan pemeliharaan hingga memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Dalam siklus hidup BSF, larva umumnya membutuhkan waktu sekitar 18–21 hari sejak menetas untuk mencapai fase prepupa sebelum berkembang menjadi pupa.
Selama perawatan, Warga Binaan jalankan tahapan budidaya berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan di Lapas Batulicin. Ketelitian dalam menjaga pertumbuhan larva diperlukan agar proses budidaya berjalan optimal.
Hasil budidaya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dan ikan. Sebagian maggot juga akan dipersiapkan untuk pengembangan indukan BSF guna mendukung keberlanjutan siklus budidaya sekaligus mengasah keterampilan kemandirian Warga Binaan.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, menjelaskan bahwa perawatan baby maggot merupakan tahapan penting untuk menunjang keberhasilan budidaya. Ketelatenan dan konsistensi dalam pemeliharaan diperlukan agar hasilnya dapat dimanfaatkan sesuai tujuan.
“Budidaya maggot membutuhkan perawatan yang telaten dan berkelanjutan sejak tahap awal pertumbuhan. Kami berharap Warga Binaan dapat terus mengembangkan keterampilan ini sehingga hasil budidaya bisa dimanfaatkan sebagai pakan dan mendukung keberlanjutan pengembangbiakan BSF,” ujar Harry.
Salah seorang Warga Binaan, H, mengungkapkan bahwa kegiatan budidaya maggot memberinya pengalaman merawat larva sesuai tahapan pertumbuhannya. Ia juga belajar bahwa ketelitian dan konsistensi penting dalam proses pemeliharaan.
“Kami merawat baby maggot secara telaten agar pertumbuhannya berjalan baik. Dari kegiatan ini, kami belajar mengikuti setiap tahapan budidaya dan memahami pemanfaatan maggot untuk pakan maupun pengembangan indukan,” ungkap H.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menilai budidaya maggot jadi salah satu kegiatan yang menunjang pembinaan kemandirian melalui keterampilan praktis. Ia mendorong agar kegiatan tersebut dijalankan secara konsisten sehingga hasilnya dapat memberikan manfaat berkelanjutan.
“Kami mendukung pengembangan budidaya maggot sebagai bagian dari pembinaan keterampilan Warga Binaan. Melalui perawatan yang terarah, kegiatan ini diharapkan menghasilkan maggot yang bermanfaat sekaligus memberikan pengalaman dalam mengelola usaha budidaya secara berkelanjutan,” ujar Thoha.
Perawatan baby maggot berusia tujuh hari menjadi bagian dari pengembangan budidaya BSF di Lapas Batulicin. Hasilnya diharapkan dapat menunjang kebutuhan pakan ternak dan ikan serta menyediakan indukan untuk siklus budidaya berikutnya. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Batulicin
What's Your Reaction?


