Lapas Kelas I Cipinang Dorong Transfer Pengetahuan melalui Magang Berbasis Praktik
Jakarta, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang jadikan program magang sebagai ruang belajar kerja nyata bagi mahasiswa. Selama satu bulan bersama Tim Komunikasi Publik, dua mahasiswa Universitas Jayabaya tidak hanya terlibat dalam produksi publikasi, tetapi juga monitoring isu, pelayanan masyarakat, pelaporan, hingga komunikasi kelembagaan. Hasil pembelajaran tersebut dipaparkan pada evaluasi kegiatan magang, Kamis (10/9).
Kepala Bagian Tata Usaha, Ari Budiningsih, mengapresiasi proses dan laporan yang disampaikan mahasiswa. Ia juga menyampaikan pesan Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, agar program magang memberi pengalaman langsung dan membuka ruang transfer pengetahuan dua arah.
“Mahasiswa jangan hanya datang, melihat, lalu menyelesaikan kewajiban magang. Mereka perlu diberi ruang untuk belajar, bekerja, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menyampaikan gagasan. Mereka mendapat pengalaman nyata, sementara organisasi memperoleh perspektif dan energi baru dari generasi muda,” ujar Ari,
Selama magang, mahasiswa terlibat dalam penyusunan siaran pers dan konten media sosial, produksi lapangan sebagai fotografer, videografer, maupun narator, serta pemantauan pemberitaan dan media sosial setiap pagi. Hasil monitoring dianalisis sebagai deteksi dini terhadap isu dan konten negatif terkait Pemasyarakatan, khususnya Lapas Kelas I Cipinang, untuk menjadi bahan awal Tim Komunikasi Publik sebelum memulai aktivitas.
Pengalaman tersebut juga diperluas ke pelayanan publik. Setelah mendapat pembekalan budaya pelayanan 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun, mahasiswa mempraktikkannya langsung pada loket pencetakan kunjungan online. Mereka turut membantu pelaporan harian pimpinan kepada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Daerah Khusus Jakarta, penyusunan laporan mingguan, dan mengikuti audiensi dengan instansi eksternal, termasuk Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur dan Suku Dinas Pendidikan.
Mentor mahasiswa magang, Ilmal Wahyudi, mengatakan pola pendampingan sengaja dibuat berbasis praktik agar mahasiswa memahami bahwa komunikasi publik tidak berhenti pada pembuatan konten. “Kami ingin mereka memahami satu siklus kerja secara utuh: membaca isu, mengolah informasi, membuat pesan, turun ke lapangan, melayani masyarakat, hingga menyusun laporan. Jadi, yang dipelajari bukan hanya teknis konten, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan cara bekerja dalam sebuah organisasi pelayanan publik,” jelasnya.
Salah satu mahasiswi Universitas Jayabaya, Liska Damayanti Siagian, menyampaikan pengalaman selama satu bulan memberikan perspektif yang berbeda terhadap lingkungan Pemasyarakatan. “Awalnya kami membayangkan magang di Lapas akan banyak berkaitan dengan dokumentasi dan publikasi. Ternyata, kami juga belajar monitoring isu, pelayanan langsung kepada masyarakat, pelaporan, dan komunikasi dengan berbagai pihak. Pengalaman ini membuat kami memahami bahwa komunikasi publik bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana sebuah institusi hadir dan melayani,” ungkapnya.
Melalui program tersebut, Lapas Kelas I Cipinang mendorong magang menjadi ruang pembelajaran, praktik kerja, dan transfer pengetahuan, sekaligus membuka perspektif bahwa di balik sistem pengamanan yang ketat, Pemasyarakatan juga merupakan institusi pelayanan publik yang profesional, terbuka, dan humanis. (IR)
Kontributor: Lapas Kelas I Cipinang
What's Your Reaction?


