Lapas Narkotika Jakarta: Saat Penjara Jadi Tempat Menata Hidup
Jakarta, INFO_PAS - Jemarinya bergerak perlahan menyusuri benang demi benang di atas papan kayu berpaku. Sesekali ia berhenti, memperhatikan pola yang mulai terbentuk menjadi sebuah karya string art. Di ruang kegiatan kerja Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta itu, suasana terasa tenang di tengah aktivitas para Warga Binaan yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Dulu, Warga Binaan inisial NA mengaku tidak memiliki keterampilan apa pun. Bahkan, ia tak pernah mengenal seni seperti ini. Namun di tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia justru menemukan cara baru untuk mengenal dirinya sendiri.
“Saya divonis delapan tahun, sekarang baru menjalani dua tahun. Awalnya cuma ingin mengisi waktu, tapi ternyata saya suka. Dari sini saya belajar sabar. Benang itu dirangkai satu-satu, sama seperti saya yang sedang belajar memperbaiki hidup pelan-pelan supaya nanti bisa kembali lagi ke keluarga,” ujarnya, Rabu (13/5).
Di Lapas Narkotika Jakarta, hari-hari para Warga Binaan tak hanya diisi dengan menjalani masa pidana. Sejak pagi, berbagai aktivitas pembinaan mulai berjalan. Ada yang membuat roti, menjahit pakaian, memangkas rambut, melukis, hingga mengurus peternakan dan perkebunan di area Sarana Asimilasi dan Edukasi.
Di area peternakan, sekitar 1.000 ekor ayam dipelihara langsung oleh para Warga Binaan. Sementara di sudut lain, beberapa orang terlihat telaten mengelola maggot yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak tinggi protein. Tak jauh dari sana, hamparan kangkung tumbuh hijau dan dipanen secara berkala, bahkan mampu menghasilkan hingga 50 kilogram dalam sekali panen.
Kepala Lapas Narkotika Jakarta, Dr. Syarpani, menyebut pembinaan menjadi tonggak untuk membangun kembali kepercayaan diri para Warga Binaan. “Lebih dari 150 Warga Binaan setiap hari mengikuti pembinaan keterampilan. Kami ingin mereka punya bekal dan kemampuan untuk memulai hidup yang lebih baik setelah bebas nantinya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Ewang Catur Saputra. Ia menjelaskan hasil karya dan produksi para Warga Binaan juga dipasarkan kepada masyarakat maupun pihak ketiga.
“Hasil penjualan nantinya diberikan kembali dalam bentuk premi kepada Warga Binaan yang bekerja. Dengan begitu, mereka merasa usaha dan kerja kerasnya dihargai,” katanya.
Tak hanya pembinaan kemandirian, pendidikan melalui PKBM, pembinaan keagamaan, hingga kegiatan Pramuka juga menjadi bagian dari keseharian mereka.
Bagi sebagian orang, penjara mungkin hanya terlihat sebagai bangunan tinggi dengan besi sebagai pembatasnya. Namun di balik aktivitas sederhana yang berlangsung setiap hari, ada banyak orang yang sedang belajar mengenal dirinya kembali, merangkai harapan, dan menyiapkan langkah baru untuk kehidupan yang akan datang. (Fjr)
What's Your Reaction?


