LATUCIP Mengajar, Lapas Kelas I Cipinang Rancang Pendidikan Kesetaraan yang Relevan dengan Dunia Kerja

LATUCIP Mengajar, Lapas Kelas I Cipinang Rancang Pendidikan Kesetaraan yang Relevan dengan Dunia Kerja

Jakarta, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang mulai merancang model pendidikan kesetaraan yang lebih relevan dengan kebutuhan Warga Binaan melalui LATUCIP Mengajar. Menariknya, Warga Binaan yang menjadi relawan pengajar tidak hanya dilibatkan sebagai tutor sebaya, tetapi ikut menyusun konsep waktu, materi, dan pendekatan pembelajaran yang nantinya akan dibahas bersama Sekolah Erudio dan Gudskul Ekosistem.

Pembahasan tersebut menjadi tindak lanjut komunikasi yang sebelumnya telah dibangun dengan pegiat pendidikan, termasuk Monika Irayati dari Sekolah Erudio dan Gudskul Ekosistem untuk mencari pendekatan pembelajaran konseptual yang dapat diterapkan di PKBM Warga Mandiri Lapas Cipinang. Fokusnya bukan sekadar menambah aktivitas belajar, tetapi merancang pembelajaran yang mempertimbangkan usia, pengalaman, potensi, dan kebutuhan Warga Binaan setelah kembali ke masyarakat.

Pembina PKBM Warga Mandiri, Septiyawan, mengatakan antusiasme para relawan tumbuh sejak tahap perancangan. Mereka mulai memetakan materi yang dapat diajarkan, pola pendampingan, hingga waktu belajar yang memungkinkan diterapkan di lingkungan Lapas.

“Yang menarik, konsepnya justru mulai tumbuh dari Warga Binaan sendiri. Mereka berdiskusi tentang apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara belajar yang lebih relevan. Konsep awal ini nantinya kami bawa untuk dibahas bersama para pegiat pendidikan agar LATUCIP Mengajar tidak sekadar menghadirkan tutor, tetapi membangun proses belajar yang benar-benar dibutuhkan,” jelas Septiyawan, Kamis (27/8).

Salah seorang relawan Warga Binaan, Boby Hendrica, mengusulkan agar pembelajaran juga mempertimbangkan fase usia dan peluang kerja setelah bebas. Menurutnya, kebutuhan keterampilan Warga Binaan berusia 20–30 tahun tidak selalu sama dengan mereka yang berusia 40–50 tahun.

“Kami ingin yang dipelajari punya hubungan dengan kehidupan setelah bebas. Usia dan kemampuan setiap orang berbeda. Jadi, keterampilan yang dipersiapkan juga sebaiknya menyesuaikan. Harapannya, ketika kembali ke masyarakat kami punya bekal yang memang bisa digunakan,” harap Boby.

Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, pada kesempatan terpisah menegaskan penguatan PKBM Warga Mandiri ke depan perlu diarahkan untuk mengurangi sekat antara pendidikan kesetaraan dan pembinaan kemandirian. Menurutnya, pendidikan formal dan keterampilan kerja seharusnya saling memperkuat dalam mempersiapkan reintegrasi sosial.

“Jangan sampai pendidikan berjalan sendiri dan pelatihan keterampilan berjalan sendiri. Kita ingin mencari model yang menghubungkan keduanya. Ketika Warga Binaan mengikuti pelatihan di BLK, memiliki keterampilan, portofolio, atau sertifikat kompetensi, perlu kita kaji bersama mitra pendidikan bagaimana capaian pembelajaran itu dapat dikenali dan menjadi proses pendidikan mereka sesuai ketentuan,” tegas Syarpani.

Pendekatan tersebut menjadi arah pengembangan PKBM Warga Mandiri yang saat ini masih terus disusun. LATUCIP Mengajar mengembangkan potensi petugas dan Warga Binaan sebagai pengajar serta tutor sebaya. Sementara itu, keterlibatan Sekolah Erudio, Gudskul, dan jejaring pegiat pendidikan diharapkan memperkaya metode pembelajaran konseptual dan pendidikan orang dewasa.

Dengan pendekatan itu, Lapas Kelas I Cipinang tidak hanya mengejar terselenggaranya Paket A, B, dan C, tetapi mulai membangun pendidikan yang relevan dengan kehidupan setelah bebas. Pendidikan kesetaraan, pengalaman, keterampilan kerja, dan potensi individual diarahkan menjadi satu proses pembelajaran yang mempersiapkan Warga Binaan untuk kembali belajar, bekerja, dan mengambil peran produktif di masyarakat. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Kelas I Cipinang

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0