Pesantren Warga Binaan Lapas Suliki Tanamkan Nilai Tanggung Jawab dan Keharmonisan Keluarga
Suliki, INFO_PAS – Bisakah seseorang menata kembali harapan, memperbaiki tanggung jawab, dan membangun keluarga yang lebih harmonis meski sedang menjalani masa pidana? Pertanyaan inilah yang jadi salah satu semangat di balik kegiatan Pesantren Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Suliki, Selasa (3/11).
Mengusung materi pembinaan “Menata Kembali Harapan, Tanggung Jawab, dan Kasih Sayang untuk Membangun Rumah Tangga yang Menenteramkan”, kegiatan ini jadi ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, melakukan introspeksi diri, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Sebanyak 19 Warga Binaan ikuti pembinaan keagamaan ini secara terjadwal dua kali dalam seminggu. Melalui pembelajaran pesantren, mereka diajak memahami bahwa perubahan tidak hanya dimulai dari penyesalan atas masa lalu, tetapi juga dari keberanian memperbaiki diri dan menjalankan tanggung jawab pada masa depan.
Kepala Lapas Suliki, Waskito Budi Darmo, tegaskan pentingnya pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi perubahan perilaku Warga Binaan.
“Pembinaan di dalam Lapas bukan semata-mata tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk belajar, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan. Melalui pesantren ini, kami berharap nilai-nilai agama yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun tanggung jawab dan keharmonisan keluarga,” ujarnya.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, tekankan bahwa pembinaan pesantren diharapkan tidak berhenti pada kegiatan belajar agama semata, tetapi juga jadi bekal dalam membangun kehidupan yang lebih bertanggung jawab, termasuk menjalankan peran sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Senada, Ustaz Andika Figora dari IPARI Kabupaten Lima Puluh Kota selaku pengajar, menyampaikan bahwa materi pembinaan diarahkan pada pentingnya menata kembali harapan, memahami tanggung jawab, dan menumbuhkan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan rumah tangga yang tenteram.
“Pembelajaran tersebut mengajak Warga Binaan untuk melihat keluarga bukan sekadar tempat kembali, melainkan juga amanah yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati, komunikasi yang baik, kesabaran, dan tanggung jawab,” ungkapnya.
Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi Warga Binaan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga serta membangun pola kehidupan yang lebih positif setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui pertemuan dua kali seminggu, proses pembinaan diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Pesantren Warga Binaan Lapas Suliki juga jadi bagian dari upaya mendukung arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta pelaksanaan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
Pembinaan yang menitikberatkan pada penguatan karakter, nilai keagamaan, tanggung jawab, dan kesiapan kembali ke masyarakat sejalan dengan semangat membangun sumber daya manusia berkualitas serta mewujudkan penyelenggaraan Pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan dan reintegrasi sosial.
Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari jumlah pertemuan atau materi yang disampaikan, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai tersebut tumbuh menjadi kesadaran, tercermin dalam perilaku, dan diterapkan dalam kehidupan nyata. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Suliki
What's Your Reaction?


