Produk UMKM Lapas Luwuk Laris Manis Diserbu Keluarga Warga Binaan

Produk UMKM Lapas Luwuk Laris Manis Diserbu Keluarga Warga Binaan

Produk Tata Boga Warga Binaan Lapas Luwuk Laris di Ruang Kunjungan

Luwuk, INFO_PAS – Produk olahan kelompok kerja (Pokja) Tata Boga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk dapat sambutan dari keluarga Warga Binaan, Sabtu (8/8). Aneka makanan dan minuman hasil olahan Warga Binaan dipasarkan langsung di ruang kunjungan selama jam layanan berlangsung.

Sejumlah produk yang ditawarkan meliputi pisang goreng, kolak, lalapan, nasi goreng, nasi ayam, serta aneka minuman. Tercatat 14 gelas es teh, 47 porsi pisang goreng, 5 porsi nasi goreng, 3 porsi nasi ayam, dan 3 porsi kolak habis terjual. Warga Binaan yang tergabung dalam Pokja Tata Boga terlibat dalam seluruh proses, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah, menyajikan, hingga menjual produk.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk, Heru Cahyono, mengatakan pemasaran produk di ruang kunjungan menjadi bagian dari pembinaan agar Warga Binaan memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola produk untuk konsumen.

“Kalau hanya belajar memasak di dapur, mereka belum tentu tahu apakah makanan yang dibuat disukai orang atau tidak. Ketika produk dijual dan langsung dibeli serta dicicipi pengunjung, mereka bisa melihat sendiri hasilnya. Ada yang memberikan masukan soal rasa, ukuran porsi, sampai penyajiannya. Dari situ mereka belajar bahwa membuat makanan untuk dijual membutuhkan ketelitian dan konsistensi,” ujar Heru.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga beri pengalaman pengelolaan kebutuhan produksi dan pelayanan kepada konsumen. Warga Binaan belajar memperhitungkan bahan, menjaga kualitas, melayani pembeli, serta bertanggung jawab atas produk yang dihasilkan.

Salah seorang Warga Binaan yang terlibat dalam Pokja Tata Boga, K, mengaku lebih percaya diri setelah mendapat kesempatan memasarkan hasil olahannya secara langsung.

“Dulu saya hanya belajar membuat makanan untuk kegiatan di dalam. Sekarang kami membuat untuk dijual dan langsung dinilai oleh orang yang membeli. Kalau ada yang bilang enak, rasanya senang. Tapi kalau ada yang bilang kurang asin atau porsinya perlu ditambah, itu juga jadi pelajaran buat kami. Jadi kami tahu apa yang harus diperbaiki,” ungkapnya.

Respons terhadap produk juga datang dari pengunjung. Salah seorang pengunjung, Anti, mengaku tertarik membeli makanan tersebut karena ingin mencoba hasil olahan Warga Binaan. Ia menilai produk yang disajikan memiliki cita rasa dan penyajian yang cukup baik.

“Saya awalnya cuma mau coba karena penasaran. Ternyata rasanya enak dan penyajiannya juga cukup rapi. Yang saya suka, makanannya masih terasa fresh karena dibuat untuk kebutuhan kunjungan. Kalau ke depan pilihannya semakin banyak dan rasanya dipertahankan, menurut saya ini bisa menjadi salah satu produk yang menarik dari Lapas Luwuk,” kata Anti.

Kepala Lapas Luwuk, Muhammad Bahrun, mengatakan pemasaran produk Tata Boga di ruang kunjungan menjadi salah satu cara untuk melihat hasil pembinaan secara langsung.

“Kami ingin pembinaan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Ukurannya adalah ketika Warga Binaan mampu menghasilkan produk, produk tersebut bisa diterima konsumen dan mereka mendapatkan pengalaman mengelola kegiatan secara langsung. Ruang kunjungan kami manfaatkan sebagai salah satu tempat untuk menguji kemampuan itu. Ada proses produksi, ada konsumen, ada penilaian dan ada perbaikan,” tegas Bahrun.

Bahrun menambahkan bahwa keterampilan Tata Boga dapat dikembangkan sebagai bekal usaha setelah Warga Binaan menyelesaikan masa pidananya. Karena itu, Lapas terus dorong peningkatan kualitas produk, termasuk dari sisi kebersihan, tampilan, konsistensi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen.

Pemasaran produk Pokja Tata Boga tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang beri pengalaman langsung kepada Warga Binaan dalam menghasilkan dan menawarkan produk kepada konsumen. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan pengolahan makanan dalam situasi yang mendekati praktik usaha.

Dengan terlibat sejak tahap produksi hingga penjualan, Warga Binaan memperoleh pengalaman yang dapat mendukung pengembangan keterampilan Tata Boga sebagai bekal saat kembali ke masyarakat. (afn)

 

Kontributor: Humas Lapas Luwuk

 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0