Tekan Kerusuhan di Lapas Barelang dengan Kegiatan Produktif

BATAM - Kegiatan produktif berupa pelatihan kerja bagi narapidana ternyata mampu menekan tingkat kerusuhan di sebuah lembaga pemasyarakatan (lapas). Namun, Lembaga Pemasyarakan Barelang di Batam, Kepulauan Riau masih kekurangan fasilitas untuk kegiatan produktif seperti itu. Selain bisa menjadi upaya mencegah kerusuhan, kegiatan produktif juga bisa menjadi sumber penghasilan dan bentuk pemberdayaan bagi narapidana. Kepala Lapas Barelang Farhan Hidayat mengatakan, ada tujuh jenis kegiatan produktif di Lapas Barelang. Keterbatasan ruang, peralatan, dan modal membuat hanya sedikit narapidana terlibat dalam kegiatan-kegiatan produktif itu. “Kami memanfaatkan sebagian ruang dan halaman untuk berbagai kegiatan. Kalau memungkinkan, memang berharap ditambah. Tetapi, kondisi sekarang mengharuskan kami mengoptimalkan yang ada,” ujarnya, Senin (30/5/2016), di Batam. Kegiatan produktif di Lapas Barelang adalah produksi mebel, tempe, kain perca, ternak, hasta kriya,

Tekan Kerusuhan di Lapas Barelang dengan Kegiatan Produktif
BATAM - Kegiatan produktif berupa pelatihan kerja bagi narapidana ternyata mampu menekan tingkat kerusuhan di sebuah lembaga pemasyarakatan (lapas). Namun, Lembaga Pemasyarakan Barelang di Batam, Kepulauan Riau masih kekurangan fasilitas untuk kegiatan produktif seperti itu. Selain bisa menjadi upaya mencegah kerusuhan, kegiatan produktif juga bisa menjadi sumber penghasilan dan bentuk pemberdayaan bagi narapidana. Kepala Lapas Barelang Farhan Hidayat mengatakan, ada tujuh jenis kegiatan produktif di Lapas Barelang. Keterbatasan ruang, peralatan, dan modal membuat hanya sedikit narapidana terlibat dalam kegiatan-kegiatan produktif itu. “Kami memanfaatkan sebagian ruang dan halaman untuk berbagai kegiatan. Kalau memungkinkan, memang berharap ditambah. Tetapi, kondisi sekarang mengharuskan kami mengoptimalkan yang ada,” ujarnya, Senin (30/5/2016), di Batam. Kegiatan produktif di Lapas Barelang adalah produksi mebel, tempe, kain perca, ternak, hasta kriya, berkebun, dan plastik pembungkus. Kecuali plastik pembungkus, kegiatan-kegiatan itu menggunakan ruangan khusus. Kebun memanfaatkan lahan di antara tembok luar blok tahanan dengan pagar terluar Lapas Barelang. Sementara unit produksi hasta kriya, kain perca, mebel, tempe, menggunakan ruangan terbawah di setiap blok. Sementara ternak menggunakan lahan yang membatasi tembok luar dengan kanal di samping kompleks lapas. “Kegiatan itu untuk warga binaan yang sudah dalam proses asimilasi menjelang bebas,” ujar Farhan. Salah seorang narapidana yang bekerja di tempat produksi mebel, DC, mengatakan bahwa produksi mereka maksimal sembilan unit per bulan. Kendala utamanya adalah ruangan dan peralatan. “Untuk membuat meja bartender saja, terpakai seluruh ruangan. Tidak ada ruangan lain bisa dipakai. Peralatan sering rusak, karena bukan kualitas bagus. Apa boleh buat, tidak ada modal untuk menyediakan peralatan bagus,” kata terpidana 15 tahun dalam kasus narkotika itu. Dari hasil kerjanya, DC bisa mendapat uang untuk dikirimkan ke keluarganya di kawasan Tiban, Batam. Sebagian lagi disimpan untuk memenuhi kebutuhan selama di penjara. “Sabun, makanan kecil, atau kebutuhan lain harus beli,” ujarnya [caption id="attachment_36721" align="aligncenter" width="780"]Suasana Lapas Barelang di Batam Kepulauan Riau. Suasana Lapas Barelang di Batam Kepulauan Riau.[/caption] Napi lain, EJ, menyatakan hal senada. Pria yang terlibat di unit produksi tempe itu bekerja dari pukul 09.00 hingga 15.00. Jumlah produksinya tergantung pesanan. Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Barelang, Ustad, mengatakan bahwa ruangan memang terbatas. Seluruh ruang di lantai bawah setiap blok penjara pria sudah dimanfaatkan sebagai tempat produksi. “Tidak bisa menambah ruangan lagi, lahannya tidak ada. Kalau ada lahan, mungkin lebih baik untuk menambah ruang tahanan. Lapas ini sudah kelebihan kapasitas,” ujarnya. Lapas itu dirancang untuk dihuni 450 orang. Sekarang, 1.366 napi dipenjara di sana. Sementara, petugas jaga setiap giliran maksimal enam orang. Setiap regu penjaga terdiri dari seorang komandan regu yang bertugas di depan, seorang pengawas blok wanita yang dihuni 60 orang. Sisa empat penjaga lain bertugas di blok pria yang dihuni rata-rata 1.300 orang sejak beberapa bulan terakhir. Dengan demikian, setiap petugas harus mengawasi hingga 325 orang di blok pria. Kondisi itu diakui Farhan membuat Lapas Barelang termasuk rawan kericuhan. Karena itu, pengelola Lapas melakukan sejumlah cara untuk menekan potensi kerusuhan. Salah satunya dengan kegiatan produktif. “Intinya kami berusaha membuat mereka terus sibuk oleh aneka kegiatan. Jangan sampai terlalu banyak menganggur lalu berpikir yang tidak-tidak yang berujung pada kericuhan,” tuturnya. sumber: kompas.com

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0