Bawang Goreng Khas Palu Buatan Warga Binaan Lapas Perempuan Siap Rambah Pasar UMKM
Sigi, INFO_PAS – Produk bawang goreng khas Palu kini tidak hanya menjadi ikon kuliner daerah, tetapi menjadi sarana pembinaan konstruktif bagi Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Palu. Melalui program pembinaan kemandirian, para Warga Binaan dibekali keterampilan dalam mengolah dan memproduksi bawang goreng khas Palu sebagai upaya meningkatkan kemampuan wirausaha serta mempersiapkan mereka agar dapat berdaya guna dan mandiri setelah kembali ke masyarakat.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan kerja yang dilaksanakan Lapas Perempuan Palu dalam membekali Warga Binaan dengan keterampilan produktif. Dalam pelatihan tersebut, para Warga Binaan mendapatkan pengetahuan dan praktik langsung mengenai cara memilih bahan baku berkualitas, teknik penggorengan yang tepat, hingga proses pengemasan.
Kepala Lapas Perempuan Palu, Yoesiana, menjelaskan kegiatan ini tidak sekadar pelatihan keterampilan, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan agar Warga Binaan mampu mandiri secara ekonomi setelah bebas nanti. “Kami ingin memberikan bekal keterampilan yang benar-benar bisa diterapkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Produk bawang goreng khas Palu ini kami pilih karena memiliki potensi pasar yang tinggi dan menjadi salah satu oleh-oleh favorit khas daerah ini,” ungkapnya, Rabu (5/11).
Enam Warga Binaan terlibat aktif dalam proses produksi bawang goreng ini. Dari hasil pelatihan dan kegiatan produksi rutin, mereka mampu menghasilkan sekitar 60 kilogram bawang goreng dalam sebulan produksi dengan cita rasa khas yang gurih, renyah, dan beraroma khas berkat penggunaan bawang lokal dan teknik penggorengan yang benar.
Melalui kegiatan ini, Lapas Perempuan Palu tidak hanya berfokus pada aspek pembinaan keterampilan, tetapi juga mendorong tumbuhnya jiwa wirausaha dan kemandirian ekonomi. Bahkan produk bawang goreng khas Palu hasil karya Warga Binaan menjadi salah satu produk unggulan UMKM binaan Lapas Perempuan Palu yang rutin mengikuti berbagai pameran dan bazar UMKM, baik di tingkat kota maupun provinsi.
Pada tahun 2025 ini, produk bawang goreng tersebut berkesempatan tampil di panggung nasional melalui ajang APKASI Otonomi Expo 2025, sebuah pameran berskala nasional yang diikuti oleh pemerintah daerah dari seluruh Indonesia. Kehadiran produk Warga Binaan di ajang tersebut menjadi bukti nyata hasil pembinaan di lingkungan Pemasyarakatan mampu bersaing dan memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Kepala Subseksi Pembinaan, Effendy, menambahkan pelatihan ini diharapkan menjadi model pengembangan pembinaan berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. “Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bagi Warga Binaan. Kami berharap produk bawang goreng ini menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi mereka setelah selesai menjalani masa pidana,” harapnya.
Selain memberikan pelatihan teknis, Lapas Perempuan Palu juga bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Palu serta mitra lokal untuk memberikan pendampingan dan dukungan dalam hal pemasaran, branding produk, dan pengemasan yang layak jual. Dengan demikian, hasil karya Warga Binaan memiliki nilai tambah dan bersaing di pasar UMKM.
Salah satu Warga Binaan berinisial EH menyampaikan rasa syukur dan semangatnya mengikuti kegiatan tersebut. “Awalnya saya tidak tahu cara membuat bawang goreng seperti ini. Setelah belajar di sini, saya jadi punya keterampilan baru. Semoga setelah bebas nanti, saya bisa membuka usaha sendiri,” ujarnya.
Program pembinaan ini juga menjadi bentuk nyata dukungan program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam penguatan dan peningkatan pendayagunaan Warga Binaan untuk menghasilkan produk UMKM. Melalui kegiatan seperti ini, Warga Binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, mengasah kemampuan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Dengan semangat dan dukungan dari berbagai pihak, Lapas Perempuan Palu terus berupaya mewujudkan lingkungan pembinaan yang positif, produktif, dan inspiratif — membuktikan di balik tembok Lapas, tumbuh harapan, keterampilan, serta cita rasa khas Palu yang siap berkontribusi bagi perekonomian daerah dan membawa nama baik daerah di kancah nasional. (IR)
Kontributor: LPP Palu
What's Your Reaction?


