Dari Dapur Pembinaan, Warga Binaan Lapas Kelas I Tangerang Menjemput Kemandirian

Dari Dapur Pembinaan, Warga Binaan Lapas Kelas I Tangerang Menjemput Kemandirian

Tangerang, INFO_PAS – Aroma roti yang baru matang menjadi salah satu keseharian pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang. Melalui bidang bakery, empat Warga Binaan terlibat langsung dalam produksi roti manis dan roti boy. Setiap hari, sekitar 100 roti diproduksi dan dipasarkan kepada Warga Binaan dan petugas Lapas Kelas I Tangerang.

Dalam kegiatan bakery, Warga Binaan terlibat dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah dan membentuk adonan, memanggang, hingga mengemas produk. Proses tersebut menjadi ruang belajar untuk mengenal keterampilan kerja sekaligus membangun kebiasaan disiplin, menjaga kebersihan, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.

Kegiatan ini menjadi salah satu dari berbagai program pembinaan kemandirian yang diberikan Lapas Kelas I Tangerang. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada satu jenis keterampilan, tetapi disesuaikan dengan minat, kemampuan, dan potensi yang dapat dikembangkan Warga Binaan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Seksi Bimbingan Kerja, Dede Ukmartalaksana, mengatakan pembinaan kemandirian dirancang tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi juga membentuk sikap kerja yang dapat dibawa Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat. Menurutnya, keberagaman kegiatan pembinaan menjadi penting karena setiap Warga Binaan memiliki kemampuan dan ketertarikan berbeda. Dengan demikian, pembinaan menjadi ruang bagi mereka untuk menemukan keterampilan yang sesuai dan berpotensi dikembangkan.

“Ini salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang kami berikan. Yang kami harapkan bukan hanya mereka bisa membuat roti, tetapi juga memahami bagaimana bekerja dengan disiplin, menjaga kualitas, dan bertanggung jawab terhadap hasil. Keterampilan seperti ini yang nantinya bisa mereka bawa untuk membuka peluang setelah bebas,” ujar Dede, Senin (24/8).

Dalam pelaksanaannya, Warga Binaan mendapatkan pendampingan dari petugas pembina kemandirian. Mereka tidak sekadar diarahkan untuk menyelesaikan target produksi, tetapi juga dibiasakan memahami standar kerja yang diperlukan dalam proses pembuatan makanan.

“Kami membiasakan mereka bekerja dengan standar jelas, mulai dari menyiapkan bahan, menjaga kebersihan, mengikuti tahapan produksi, sampai memastikan produk layak dijual. Jadi, yang mereka pelajari bukan hanya membuat roti, tetapi bagaimana bertanggung jawab terhadap pekerjaan,” kata salah satu petugas, Pras.

Bagi Warga Binaan yang terlibat, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Dari kegiatan yang dilakukan setiap hari, mereka mulai mengenal bahwa sebuah produk tidak hanya membutuhkan kemampuan membuat, tetapi juga ketelitian dan konsistensi agar diterima konsumen.

“Di sini saya belajar bahwa membuat roti bukan hanya soal bisa membuatnya, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan bertanggung jawab sampai produk itu siap dijual. Harapannya, keterampilan ini menjadi bekal untuk bekerja atau membuka usaha setelah bebas,” harap salah satu Warga Binaan inisial Tk.

Pembinaan kemandirian tidak hanya diukur dari berapa banyak produk yang dihasilkan, tetapi sejauhmana keterampilan dan pengalaman tersebut menjadi bekal ketika Warga Binaan kembali ke masyarakat. Dari ruang-ruang pembinaan inilah, Lapas Kelas I Tangerang terus mendorong Warga Binaan untuk membangun kemampuan, kepercayaan diri, dan kesiapan menjalani kehidupan secara lebih mandiri. (IR)

 

 

Kontributor: Lapas Kelas I Tangerang

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0