Dari Limbah Jadi Berkah, Lapas Tanjungpandan Bekali Warga Binaan Keterampilan Membuat Kompos
Belitung, INFO_PAS — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan terus perkuat pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan melalui keterampilan produktif dan berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan lewat pengetahuan dan praktik pembuatan pupuk kompos di bidang pertanian di bengkel kerja Lapas Tanjungpandan, Rabu (26/8).
Pembuatan kompos dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, yakni kotoran hewan (kohe) kambing, sekam bakar, EM4 Pertanian, dan molase. Bahan utama berupa kohe kambing dan sekam bakar diperoleh melalui pemanfaatan potensi lokal, bekerja sama dengan peternak dan kelompok tani yang berada tidak jauh dari Lapas Tanjungpandan. Pemanfaatan bahan organik tersebut tidak hanya menjadi solusi dalam pengelolaan limbah, tetapi juga diharapkan menghasilkan pupuk yang menunjang kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang dikelola dalam program pembinaan kemandirian.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Pirmansyah, mengatakan kegiatan ini dirancang agar Warga Binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan selama mengikuti program pembinaan maupun setelah kembali ke tengah masyarakat. “Pembuatan kompos ini merupakan pembinaan kemandirian yang kami arahkan pada keterampilan aplikatif. Kami memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti kohe kambing dan sekam bakar sehingga Warga Binaan memahami limbah organik pun memiliki nilai guna dan dapat diolah menjadi produk bermanfaat bagi pertanian,” jelasnya.
Pirmansyah menambahkan proses fermentasi kompos diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga pekan. Selama proses tersebut, bahan akan dipantau secara berkala untuk memastikan proses penguraian berjalan dengan baik hingga menghasilkan kompos yang siap digunakan.
“Harapannya, kompos yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pupuk pada lahan pertanian Lapas. Dengan demikian, pembinaan kemandirian ini memiliki keterkaitan langsung dengan upaya meningkatkan kualitas hasil pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan,” lanjut Pirmansyah.
Antusiasme juga terlihat dari peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan Batch I Tahun 2026, M. Iqbal, yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Sebagai lulusan pertanian, ia menilai pembuatan kompos merupakan keterampilan dasar yang memiliki manfaat besar dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
“Kegiatan ini sangat positif karena Warga Binaan mendapatkan pengalaman langsung mengenai bagaimana bahan organik seperti kotoran kambing dan sekam diolah menjadi kompos. Prosesnya juga sederhana dan bahan-bahannya mudah didapat sehingga keterampilan ini berpotensi diterapkan kembali ketika mereka sudah berada di masyarakat,” ungkap Iqbal.
Salah seorang Warga Binaan berinisial SN senang mengikuti kegiatan tersebut. Keterampilan membuat kompos memberikan pengalaman baru yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan bercocok tanam.
“Sebelumnya, saya belum begitu memahami prosesnya. Sekarang saya jadi tahu bahan apa saja yang digunakan dan bagaimana proses fermentasinya. Semoga ilmu ini bisa saya gunakan untuk bertani dan bermanfaat setelah selesai menjalani pembinaan di sini,” harap SN.
Kegiatan tersebut menjadi dukungan terhadap peningkatan kualitas hasil pertanian sekaligus mendukung program ketahanan pangan dalam Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Melalui kegiatan ini, Lapas Tanjungpandan berupaya menghadirkan pembinaan kemandirian yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan Warga Binaan, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan ekonomi. Pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian menjadi kompos diharapkan menciptakan siklus produksi yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dari luar, dan memperkuat produktivitas pertanian Lapas. (IR)
Kontributor: Lapas Tanjungpandan
What's Your Reaction?


