Ditjenpas Kembangkan Lapas Terbuka Kendal Jadi Sentra Ketahanan Pangan Terintegrasi

Ditjenpas Kembangkan Lapas Terbuka Kendal Jadi Sentra Ketahanan Pangan Terintegrasi

Kendal, INFO_PAS – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) siapkan puluhan hektare lahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Kendal sebagai sentra ketahanan pangan terintegrasi berbasis pertanian, perikanan, dan peternakan. Pengembangan lahan ini ditinjau langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, bersama Ketua Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Willy Aditya, didampingi Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, Rabu (11/2).

Pengembangan lahan ini merupakan bentuk dukung Pemasyarakatan terhadap kemandirian pangan yang menjadi salah satu Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui pengolahan lahan di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan. Adapun peninjauan ini merupakan rangkaian pengawasan Panitia Kerja Pemasyarakatan Komisi III DPR RI untuk memastikan optimalisasi tugas dan fungsi Pemasyarakatan, salah satunya pemanfaatan lahan tidur (idle) guna mendukung program prioritas nasional di bidang ketahanan pangan.

“Kami punya lahan tidur yang selama ini tidak termanfaatkan. Untuk itu, kami menggandeng pihak yang memiliki keahlian untuk membangun sistem pertanian terintegrasi di sini, dengan melibatkan Warga Binaan sebagai bagian dari pembinaan,” tutur Menteri Agus.

Menurutnya, pengembangan kawasan dilakukan bersama Rejo Farm dengan model pertanian terintegrasi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah. Pada sektor pertanian, kawasan seluas ±8.064 m2 dikembangkan menjadi delapan unit nethouse melon premium dengan kapasitas ±1.880 tanaman per unit. Varietas yang dibudidayakan antara lain Golden Aroma dan Sweet Hami. Pengerjaan dua unit nethouse pertama ditargetkan rampung pada 24 Februari mendatang.

Di  sektor perikanan, lahan seluas ±28,4 hektare disiapkan untuk 30 kolam nila merah dan nila hitam salin, masing-masing seluas ±8.000 m2. Penebaran benih nila merah sebanyak 100.000 ekor per kolam telah dilakukan pada Selasa (10/2) di tiga kolam awal. Penebaran berikutnya akan dilakukan bertahap setiap dua pekan.

Sementara itu, di sektor peternakan, ayam kampung super dikembangkan di lahan ±1 hektare dengan kapasitas 6.000 ekor sistem semi-umbaran, terdiri dari 3.600 betina dan 2.400 jantan. Untuk mendukung efisiensi dan keberlanjutan, juga dikembangkan pakan alternatif berbasis Azolla pada tiga kolam seluas ±1 hektare.

“Seluruh sistem ini dirancang terintegrasi dengan prinsip sirkular untuk meminimalkan limbah dan mengoptimalkan setiap sumber daya,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Willy Aditya mengapresiasi pengembangan Lapas Terbuka Kendal yang dinilai menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach).  “Kalau kita lihat kenapa Tiongkok bisa menjadi negara superpower, itu karena scientific approach on development. Hari ini kita melihat bagaimana Pak Menteri menggerakkan ini dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang terintegrasi dan multidisiplin,” pujinya.

Ia menilai pengembangan sentra ketahanan pangan ini memadukan berbagai disiplin ilmu seperti biologi, kimia, pertanian, ekonomi, hingga pemanfaatan teknologi dan akal imitasi (AI).

“Selama ini Lapas sering dianggap beban, namun dengan ini justru tumbuh harapan. Dari Lapas kita kembalikan kejayaan Indonesia dari sektor pertanian dan pangan,” tambah Willy.

Selanjutnya, Mashudi menjelaskan pengembangan sentra ketahanan pangan di Lapas Kendal merupakan salah satu upaya Pemasyarakatan untuk memberikan manfaat bukan hanya bagi Warga Binaan, melainkan juga masyarakat umum.  “Pengembangan Lapas Terbuka Kendal diharapkan menjadi percontohan nasional pemanfaatan lahan Pemasyarakatan secara produktif untuk mendukung ketahanan pangan, meningkatkan keterampilan Warga Binaan, sekaligus dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya. (afn)

 

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0