Lapas Luwuk Terapkan Konsep Zero Waste, Panen Perdana Maggot Capai 11 Kg
Luwuk, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk panen perdana 11 kilogram maggot dari kegiatan pembinaan kemandirian Warga Binaan, Rabu (7/10). Hasil panen tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan pada kegiatan peternakan dan perikanan di lingkungan Lapas.
Maggot yang dipanen merupakan larva Black Soldier Fly (BSF) yang dikembangkan sebagai alternatif pakan. Selain menghasilkan maggot, proses tersebut juga memungkinkan pemanfaatan limbah organik sebagai media budidaya.
Hasil panen perdana akan diolah menjadi tiga bentuk, yaitu fresh maggot, dried maggot, dan tepung maggot. Fresh maggot akan dimanfaatkan sebagai pakan untuk peternakan dan perikanan, sedangkan dried maggot dan tepung maggot disiapkan sebagai pakan yang lebih tahan lama dan mudah disimpan.
Budidaya BSF juga menghasilkan kasgot sebagai produk sampingan. Setelah melalui proses fermentasi, kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian dan ketahanan pangan di Lapas Luwuk.
Pemanfaatan maggot dan kasgot menjadi bagian dari penerapan konsep zero waste di Lapas Luwuk. Limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya, sementara hasil sampingnya kembali diolah untuk kebutuhan pertanian.
Kegiatan ini sekaligus jadi sarana bagi Warga Binaan untuk mempelajari keterampilan baru yang dapat dikembangkan setelah kembali ke masyarakat. Pengembangan maggot juga mendukung kegiatan ketahanan pangan Lapas Luwuk pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Kepala Lapas Luwuk, Muhammad Bahrun, mengapresiasi hasil panen perdana tersebut. Menurutnya, budidaya maggot memberi manfaat langsung bagi kegiatan di dalam Lapas sekaligus membuka peluang pengembangan keterampilan bagi Warga Binaan.
“Panen perdana sebanyak 11 kilogram ini menjadi langkah awal yang baik. Hasilnya akan kami manfaatkan terlebih dahulu untuk mendukung kebutuhan pakan dalam kegiatan peternakan dan perikanan di Lapas Luwuk. Ke depan, kami juga akan mengembangkan hasil panen menjadi fresh maggot dan dried maggot yang memiliki potensi untuk dipasarkan kepada masyarakat,” ujar Bahrun.
Ia menambahkan bahwa budidaya maggot memiliki keunggulan karena hampir seluruh hasilnya dapat dimanfaatkan.
“Yang menarik dari budidaya ini bukan hanya maggotnya yang dapat digunakan sebagai pakan. Kasgot yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik setelah difermentasi. Jadi, dari satu kegiatan kita bisa mendapatkan pakan sekaligus bahan yang dapat mendukung kegiatan pertanian. Ini sejalan dengan upaya kami memperkuat ketahanan pangan dan mengembangkan pembinaan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Salah seorang Warga Binaan, M, yang terlibat dalam budidaya maggot mengaku senang dengan hasil panen perdana tersebut.
“Awalnya kami belajar bagaimana cara merawat dan mengembangkan maggot. Setelah melihat hasil panennya mencapai 11 kilogram, kami merasa senang karena ternyata kegiatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya maggot, hasil sisanya juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk setelah difermentasi. Kami jadi lebih semangat untuk mengembangkan budidaya ini,” ujar M.
Ke depan, Lapas Luwuk akan kembangkan budidaya maggot, baik dari sisi produksi maupun pengolahan hasil panen. Fresh maggot dan dried maggot diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan di lingkungan Lapas sekaligus dikembangkan sebagai produk hasil pembinaan kemandirian yang berpotensi dipasarkan.
Pengembangan budidaya maggot menjadi salah satu bentuk pembinaan yang memadukan keterampilan Warga Binaan dengan pemanfaatan limbah organik. Hasilnya tidak hanya mendukung kegiatan ketahanan pangan di Lapas Luwuk, tetapi juga menjadi bekal keterampilan bagi Warga Binaan untuk kembali ke masyarakat. (afn)
Kontributor: Humas Lapas Luwuk
What's Your Reaction?


