Perkuat Pembinaan Kemandirian, Lapas Perempuan Pangkalpinang Bekali Warga Binaan dengan Beragam Keterampilan
Pangkalpinang, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Pangkalpinang terus kembangkan potensi dan keterampilan Warga Binaan melalui pembinaan kemandirian. Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah pelatihan keterampilan membatik yang berlangsung tanggal 2–4 September 2026 bekerja sama dengan Batik Kampung Katak.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan produktivitas Warga Binaan sekaligus memberikan bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan bernilai ekonomi setelah kembali ke tengah masyarakat. Selama pelatihan, Warga Binaan mendapatkan pembelajaran mengenai proses membatik secara bertahap.
Kegiatan diawali dengan membuat dan menggambar pola, kemudian memindahkan pola ke kertas minyak sebagai acuan sebelum diaplikasikan pada kain. Tahapan selanjutnya adalah menggambar motif di atas kain berdasarkan pola yang telah dibuat. Warga Binaan kemudian mempraktikkan teknik mencanting menggunakan malam dengan mengikuti garis motif secara teliti dan mendapatkan pendampingan langsung dari instruktur. Setelah pencantingan, dengan proses pewarnaan kain. Warga Binaan diberikan arahan mengenai teknik pewarnaan sehingga setiap tahapan dilakukan dengan baik hingga menghasilkan karya batik.
Rangkaian pelatihan tersebut tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan konsistensi Warga Binaan. Melalui praktik secara langsung, Warga Binaan memperoleh pengalaman dari tahap awal pembuatan pola hingga menghasilkan kain dengan motif dan warna yang memiliki nilai estetika.
Kepala Lapas (Kalapas) Perempuan Pangkalpinang, Rina Setiari, menyampaikan pelatihan keterampilan merupakan bagian penting dalam mempersiapkan Warga Binaan agar memiliki bekal positif dan kemampuan yang dapat dikembangkan setelah kembali ke masyarakat. “Kami berharap pelatihan ini tidak hanya menambah keterampilan dan kreativitas Warga Binaan, tetapi juga menjadi bekal kemandirian yang dapat terus dikembangkan. Kami mengapresiasi Batik Kampung Katak yang telah berbagi ilmu dan pengalaman secara langsung kepada Warga Binaan,” ucapnya.
Sementara itu, Endang Sri Hastuti selaku owner Batik Kampung Katak menyampaikan bahwa membatik merupakan proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kemauan untuk terus berlatih. Setiap tahapan perlu dilakukan dengan cermat agar menghasilkan karya yang baik.
“Membatik membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena setiap proses saling berkaitan, mulai dari membuat pola, mencanting hingga pewarnaan. Kami berharap keterampilan yang dipelajari selama pelatihan ini terus dikembangkan oleh Warga Binaan,” harap Endang.
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan yang mendorong Warga Binaan untuk lebih produktif dan kreatif dalam menghasilkan karya. Keterampilan membatik yang diperoleh diharapkan terus dikembangkan menjadi peluang kegiatan yang bernilai dan bermanfaat setelah Warga Binaan kembali ke tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Lapas Perempuan Pangkalpinang tidak hanya memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, tetapi juga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri, ketekunan, dan semangat untuk berkarya. Dari pola yang sederhana, lahir proses yang penuh ketelitian; dari setiap tarikan canting dan sapuan warna, keterampilan, dan kemandirian Warga Binaan terus ditumbuhkan.
Tak hanya itu, Lapas Perempuan Pangkalpinang juga berikan bekal bagi Warga Binaan berupa pemanfaatan limbah dapur untuk diolah menjadi pupuk kompos untuk mengurangi timbulan sampah organik sekaligus memanfaatkan limbah agar memiliki nilai guna. Sisa makanan dan bahan organik dari aktivitas dapur dipilah dan dikumpulkan untuk selanjutnya melalui proses pengolahan hingga menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Pengelolaan limbah tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi kebersihan lingkungan Lapas, tetapi juga menjadi upaya membangun budaya peduli lingkungan. Limbah yang sebelumnya hanya menjadi sampah kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yang mendukung pertumbuhan tanaman di lingkungan Lapas.
Kegiatan ini juga memberikan nilai edukatif dan produktif bagi Warga Binaan. Melalui keterlibatan dalam proses pengolahan limbah, Warga Binaan memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis mengenai pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.
Kalapas menyampaikan pengolahan limbah dapur menjadi pupuk kompos merupakan langkah sederhana yang memiliki manfaat berkelanjutan. Pemanfaatan limbah organik juga menjadi langkah nyata dalam menerapkan prinsip sederhana bahwa sampah dapat memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik. Hasil pengolahan berupa pupuk kompos dapat digunakan untuk mendukung penghijauan dan pemeliharaan tanaman di lingkungan Lapas.
“Kami berupaya agar setiap kegiatan di Lapas dapat memberikan manfaat, baik bagi Warga Binaan maupun bagi lingkungan. Limbah dapur yang selama ini menjadi sampah dapat kita manfaatkan kembali menjadi pupuk kompos. Selain menjaga kebersihan lingkungan, juga menjadi pembinaan keterampilan bagi Warga Binaan,” ujar Rina.
Pengolahan limbah dapur menjadi kompos menjadi salah satu bentuk dukungan Lapas Perempuan Pangkalpinang terhadap keberhasilan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya melalui pelaksanaan kegiatan produktif, bermanfaat, dan mendorong terciptanya lingkungan Pemasyarakatan yang lebih baik. Melalui kegiatan ini, Lapas Perempuan Pangkalpinang tidak hanya berupaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan asri, tetapi juga menghadirkan proses pembinaan yang memberikan pengalaman langsung kepada Warga Binaan sebagai bekal positif untuk membangun pola hidup produktif dan peduli lingkungan. (IR)
Kontributor: LPP Pangkalpinang
What's Your Reaction?


