Drama Kolosal Ciung Wanara Karya Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung Pecahkan Rekor MURI

Drama Kolosal Ciung Wanara Karya Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung Pecahkan Rekor MURI

Bandung, INFO_PAS – Kolaborasi 470 Warga Binaan dan petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung sukses suguhkan drama kolosal bertajuk “Ciung Wanara”, Jumat (17/7). Pagelaran ini menjadi role model pembinaan yang mengedepankan sisi humanis, melestarikan dan mengenalkan budaya Sunda, membangun karya Warga Binaan sebagai bekal reintegrasi sosial, menghapus stigma negatif Warga Binaan, bahkan mecatatakan sejarah melalui rekor MURI.

Membuka pagelaran, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas), Mashudi, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Lapas Perempuan Bandung beserta seluruh jajaran, termasuk pelatih, mitra kerja, dan seluruh yang terlibat. Pihaknya juga mengundang para akademisi dan berbagai unsur masyarakat untuk menyaksikan hasil pembinaan di Lapas Perempuan Bandung bahwa Warga Binaan memiliki kemampuan yang layak untuk dipertunjukan.

“Di sini kita bisa melihat bahwa pembinaan yang dilakukan melahirkan karya berkualitas dan membentuk karakter berkontribusi. Ciung Wanara mengangkat nilai kepemimpinan, kejujuran, dan perjuangan, juga menunjukan karakter Warga Binaan. Pembinaan dilakukan dengan memperhatikan intetitas dan kreatif lokal sehingga pembinaan tidak hanya menunjukan keterampilan, tapi juga penghormatan kepada budaya. Apa yang ditunjukan di Lapas Perempuan Bandung layak menjadi contoh bagi seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Indonesia,” puji Dirjenpas.

Sementara itu, Kepala Lapas Perempuan Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, menyampaikan pihaknya menyelenggarakan drama kolosal Ciung Wanara yang dimainkan petugas dan Warga Binaan. Pagelaran ini dilakukan untuk mengembangkan bakat dan keterampilan yang dimiliki banyak pihak yang terlibat.

“Ciung Wanara mengangkat warisan budaya tanah Sunda yang mengangkat nilai kepemimpinan kejujuran, dan tanggung jawab. Pertunjukan ini merupakan hasil pembinaan, menunjukan Warga Binaan memiliki kemampuan berkembang dan bisa produktif saat kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongso Ikromo, menyatakan apresiasinya. Pagelaran ini merupakan puncak perayaan dari dedikasi yang dilakukan bersama.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada semua pihak atas kepercayaan, ruang kolaborasi, dan komitmen yang diberikan. Kita bersama telah bergerak maju melalui berbagai program pemberdayaan, seperti pelatihan barista, pembuatan aromaterapi candle, edukasi kesehatan mental bersama praktisi budi luhur, beauty class, pembuatan ecoenzym bersama bank sampah bersinar, hingga kelas menulis buku. Dengan adanya program pembinaan dan pagelaran seperti ini, kita dapat semangat reintegrasi sosial. Kita mampu, berdampak, dan siap melangkah maju,” tegasnya.

Ciung Wanara sendiri bercerita tentang perjuangan seorang pangeran untuk menemukan jati dirinya, merebut kembali haknya sebagai pewaris takhta, dan menegakkan keadilan di Kerajaan Galuh. Bersama pagelaran drama kolosal, juga digelar fashion show yang menampilkan karya batik Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung yang menjadi bukti pembinaan memperhatikan seni budaya dan ekonomi. (yp)

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0