Lapas Kelas I Malang Perkuat Kapasitas Kader Kesehatan lewat Pelatihan Pertolongan Pertama

Lapas Kelas I Malang Perkuat Kapasitas Kader Kesehatan lewat Pelatihan Pertolongan Pertama

Malang, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Malang terus perkuat peran kader kesehatan sebagai upaya meningkatkan kesigapan pelayanan kesehatan di lingkungan blok hunian. Untuk itu, 22 Warga Binaan yang merupakan kader kesehatan dari masing-masing blok ikuti sosialisasi kesehatan tentang Pelatihan Pertolongan Pertama, Jumat (4/9) di Klinik Lapas Kelas I Malang. Kegiatan yang bekerja sama dengan Tim Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang ini menjadi langkah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan kader dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi Warga Binaan.

Mewakili Kepala Lapas Kelas I Malang, Moch. Agung Bachtiar selaku Kepala Seksi Perawatan menegaskan penguatan kader kesehatan kembali dilakukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperjelas peran kader sebagai perpanjangan tangan pelayanan kesehatan di lingkungan hunian. Menurutnya, keberadaan kader menjadi makin penting mengingat luasnya area Lapas dan banyaknya blok hunian sehingga informasi mengenai Warga Binaan yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih cepat diterima petugas kesehatan.

“Kader kesehatan kami perkuat kembali dengan ilmu dan pemahaman yang lebih baik. Perannya bukan untuk melakukan penanganan medis, karena itu tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan dan dokter di klinik. Kader berperan sebagai penghubung, ketika ada Warga Binaan yang membutuhkan pelayanan kesehatan, kader dapat membantu menyampaikan dan mengarahkan agar segera mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan,” jelas Agung.

Dalam pelatihan tersebut, para kader mendapatkan materi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dasar, mulai dari pengertian dan tujuan pertolongan pertama, prinsip keselamatan penolong, hingga penggunaan peralatan P3K. Materi juga mencakup penanganan berbagai kondisi yang dapat terjadi di lingkungan sehari-hari, seperti dugaan patah tulang dan pembidaian, perdarahan, luka lecet, gigitan serangga, luka bakar, demam, kejang, pingsan, mimisan, hingga tersedak.

Para kader juga diberikan pemahaman bahwa pertolongan pertama bertujuan mencegah kondisi menjadi lebih parah, meringankan gejala serta kecemasan, dan mempertahankan kondisi korban tetap stabil sebelum mendapatkan pertolongan tenaga medis. Selain itu, aspek keselamatan penolong turut ditekankan, termasuk memastikan keamanan lokasi, mengenali potensi bahaya, menggunakan alat pelindung apabila tersedia, dan meminta bantuan tenaga medis apabila kondisi berada di luar kemampuan penanganan.

“Kami berharap seluruh Warga Binaan, khususnya para kader kesehatan, mengikuti materi ini dengan baik. Semoga pengetahuan yang diberikan menambah wawasan dan menjadi bekal bagi mereka untuk membantu mendukung pelayanan kesehatan secara optimal, terutama dalam menyampaikan informasi dan menghubungkan Warga Binaan dengan tenaga kesehatan,” harap Dokter Zhafranto Dwi dari RSUD Kota Malang

Penguatan tersebut disambut baik oleh Warga Binaan yang mengikuti kegiatan, salah satunya, AF. “Ilmu yang kami makin bertambah. Beberapa hal sebenarnya sudah pernah diajarkan oleh tenaga kesehatan di Klinik Lapas. Kami jadi lebih memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyikapi kondisi kesehatan sebelum menghubungkannya dengan tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Penguatan kader kesehatan ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diterapkan dalam keseharian sebagai upaya mempercepat komunikasi antara Warga Binaan dengan tenaga kesehatan. Dengan demikian, kader menjalankan perannya secara optimal sebagai penghubung pelayanan, sementara pemeriksaan dan penanganan kesehatan tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan di Klinik Lapas. (IR)

 

 

Kontributor: LPP Malang

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0